Jalan-jalan ke gereja ayam bukit rhema magelang, tempat syuting AADC 2

Jalan-jalan ke gereja ayam, tempat syuting AADC 2. Gereja ayam atau bukit Rhema Magelang berlokasi di Dusun Gombong, Desa Kembanglimus, Kecamatan Borobudur, Kabupaten Magelang, Propinsi Jawa Tengah. Gereja ayam menjadi semakin populer dikarenakan tempat ini dijadikan lokasi syuting dalam film AADC 2. Untuk menuju ke gereja ayam kita dapat melalui jalan di sisi selatan candi Borobudur. Untuk ke lokasi ini anda dapat melalui tempat wisata Punthuk Setumbu yang berjarak 6 km dari candi Borobudur. Lokasi Gereja ayam sendiri berada di sisi barat dari candi Borobudur.


Jalan-jalan ke gereja ayam bukit rhema magelang, tempat syuting AADC 2
Gereja ayam Magelang Jawa Tengah


Dari judul artikelnya, sepertinya saya sudah menjadi korban film. Dimana mendadak ingin mengunjungi tempat tempat yang menjadi lokasi syuting film kisah percintaan Rangga dan Cinta, film yang disutradarai oleh Riri Riza dimana penayangan perdana film ini dilakukan di kota Yogyakarta, Sabtu 23 April 2016 silam. Namun sebenarnya rencana saya untuk mengunjungi gereja ayam atau orang juga sering menyebutnya sebagai bukit Rhema sudah sejak dari beberapa waktu yang lalu, jauh sebelum lokasi ini dijadikan sebagai tempat syuting AADC 2. Saya mengetahui adanya gereja ayam berkat membaca artikel dari salah seorang blogger yang menuliskan tentang adanya sebuah tempat ibadat ( masyarakat sekitar menyebutnya sebagai gereja ) yang berbentuk unik, yakni berbentuk ayam dan terletak di belakang dari candi Borobudur. Di artikel tersebut, blogger tersebut menuliskan bahwa gereja tersebut sudah lama tidak digunakan dan menjadi angker, sehingga banyak cerita mistis yang berkembang disana. Keinginan yang sudah lama tertunda akhirnya dapat terwujud berkat ajakan dari seorang rekan yang membuat saya tidak bisa lagi mengurungkan rencana jalan-jalan menuju ke gereja ayam bukit Rhema Magelang.


Sebelum berangkat menuju gereja ayam, saya harus menjemput rekan saya dari Solo di stasiun Lempuyangan terlebih dahulu. Pada saat itu adalah hari kedua menjelang hari raya Natal, sehingga arus mudik sangatlah padat dan stasiun dipenuhi oleh para pemudik yang pulang kampung. Rasa kantuk dan lelah dikarenakan lembur kerja semalaman agaknya tidak menjadi alasan bagi saya untuk menunda rencana mengunjungi tempat tersebut. Pukul 08:00 saya sampai di stasiun Lempuyangan, rekan saya ternyata sudah sampai terlebih dahulu sudah menunggu saya. Kamipun bergegas meluncur melalui ringroad utara menuju ke arah Kabupaten Magelang melalui jalan Yogyakarta-Magelang. Namun sebelumnya kami sarapan terlebih dahulu di perempatan Denggung, Kabupaten Sleman. Disana ada warung soto yang sangat laris, dan mempunyai ukuran porsi soto yang cukup banyak.

soto ayam denggung
sarapan dulu di warung soto denggung


Tujuan utama kami adalah wisata Punthuk Setumbu, salah satu wisata alam tempat dimana kita bisa melihat sunrise terbaik dari atas perbukitan. Punthuk setumbu ini pun tidak kalah populer terutama bagi kalangan lokal maupun wisatawan mancanegara. Di tempat ini kita bisa melihat sang surya muncul dari peraduannya di ufuk timur dan dapat melihat indahnya hasil karya nenek moyang kita, Candi Borobudur di pagi hari dengan berhiaskan cahaya matahari.

Rute menuju gereja ayam dari Yogyakarta

Bila kita dari arah Yogyakarta, untuk menuju ke Punthuk Setumbu kita bisa melaui rute jalan Magelang. Bila anda sudah sampai gapura masuk tempat wisata Candi Borobudur maka masih menempuh jarak sekitar 12 km lagi atau 20 menit perjalanan. Sampai di obyek wisata Candi Borobudur maka ambillah jalan di sisi bagian selatan candi yang mengarah atau menuju ke Hotel Manohara. Ikuti jalan tersebut ( lurus ke barat ) sampai menemukan perempatan ( bila ke kiri menuju wisata kerajinan desa Djowahan & kekanan ke arah Punthuk Setumbu ), belok ke kanan dan ikutilah jalan tersebut.

jalan ke gereja ayam


Lokasi Punthuk Setumbu masih berjarak sekitar 4 km lagi. Di sepanjang perjalanan, anda akan menemukan beberapa plakat atau penunjuk arah sebagai acuan bahwa anda berada di jalan yang benar yakni di jalan menuju ke lokasi wisata Punthuk Setumbu. Oya sesekali tengoklah ke sisi kanan anda, tanpa disadari anda berada di sisi bagian selatan candi dan dapat melihat candi Borobudur yang berdiri dengan gagahnya apabila dilihat dari kejauhan. Tidak sampai 10 menit maka anda akan masuk ke desa Karangrejo ( lihat gapura masuk ) ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan kecil yang terdapat plakat informasi ke arah Punthuk Setumbu ( arah kanan ). Anda harus melalui jalan yang cukup menanjak terlebih dahulu sebelum sampai di tempat parkir wisata.  

Wisata alam Punthuk Setumbu salah satu pintu masuk ke lokasi gereja ayam

jalan ke gereja ayam
Gapura masuk wisata Punthuk Setumbu


Sampai di gapura masuk wisata alam Punthuk Setumbu kami bertanya terlebih dahulu kepada petugas yang memarkirkan kendaraan kami tentang lokasi gereja Ayam, beliau mengatakan untuk menuju ke lokasi gereja ayam harus menempuh perjalanan sekitar 500 m. Setelah membeli tiket seharga Rp.15.000; kami pun memulai perjalanan kami menyusuri bukit yang berada di sisi barat candi Borobudur ini. Jalan yang cukup menanjak dan terbuat dari dari mistar ( beberapa diantaranya masih berupa jalan setepak ) harus kami lewati. Tidak sampai 10 menit berjalan melewati jalanan yang menanjak, akhirnya sampailah kita di area terbuka, area yang cukup luas bagi kami untuk dapat melihat sekeliling termasuk melihat candi Borobudur yang tampak kecil dilihat dari kejauhan. Kami mencari bangunan gereja yang berbentuk ayam tersebut. Perhatian kami tertuju pada sebuah bangunan dengan puncaknya berbemtuk mahkota di sisi timur laut tempat kami berdiri. Nampak terdapat beberapa orang berdiri di atasnya, setelah kami amati dengan seksama, benar bahwa bangunan tersebut adalah gereja ayam yang menjadi tujuan kami.



Punthuk Setumbu


Untuk menuju ke gereja ayam dari arah Punthuk Setumbu maka kita harus berjalan kurang lebih 300 meter lagi melewati perbukitan dengan tanjakan yang cukup menguras tenaga. Jangan lupa ya bawa air mineral ketika melintasi area ini karena dijamin akan capek terutama di siang hari ketika udara di sekitarnya panas. Di bukit ini pula kita dapat melihat adanya rumah pohon yang dibangun secara menggantung diantara 2 pohon besar. Untuk naik ke rumah pohon tersebut maka anda harus membeli tiket masuk. Jika tidak salah sebesar Rp.5.000 / orang. Tiket bisa anda dapatkan di warung sekitar rumah pohon tersebut. Karena tujuan kami adalah gereja ayam, maka kami tidak menyempatkan diri untuk beristirahat sejenak di rumah pohon tersebut.


Jalanan setapak dengan sekitarnya ditumbuhi pohon cacao, pohon jati dan pohon jambu monyet harus kamu lalui untuk menuju ke gereja ayam. Tidak sampai 15 menit kami berjalan, sampailah kita di gereja ayam. Kami berjalan dari sisi bagian belakang atau sisi ekor dari bangunan yang proses pengerjaannya dimulai sejak tahun 1992 silam ini. Tampak beberapa pekerja sedang mengerjakan beberapa bagian dari gereja termasuk bangunan di bagian belakang yakni bagian ekor. Oya untuk dapat masuk area gereja ayam anda juga harus membayar biaya masuk yakni sebesar Rp.10.000;. 

Jalan yang harus dilewati dari Punthuk Setumbu ke Gereja ayam


Kami berjalan menyusuri bagian samping kanan dari gereja tersebut. Di bagian pelataran gereja sudah banyak wisatawan datang lebih awal dibandingkan dengan kami. Wisatawan tersebut ada yang berasal dari arah yang sama dengan kami ( arah Punthuk Setumbu ) dan adapula yang berasal dari arah yang berlawanan ( arah depan gereja). Barulah saat itu kami sadar bahwa untuk menuju ke gereja ayam atau bukit Rhema terdapat jalur lain yang bisa kami lalui tanpa harus menuju ke wisata alam Punthuk Setumbu. Wisatawan yang datang kebanyakan menggunakan motor dan jarang terlihat menggunakan mobil pribadi, kendaraan roda empat yang terlihat di lokasi ini kebanyakan adalah mobil jeep yang sudah dimodifikasi bagian belakangnya sehingga dapat mengangkut lebih banyak penumpang. Agaknya untuk menuju ke lokasi ini harus melalui jalanan yang cukup sulit dilalui sehingga pengunjung harus menggunakan mobil berpenggerak 4 WD. Sampai di bagian depan dari gereja saya menyempatkan mengambil beberapa gambar.     

Sejarah gereja ayam

Bagian sisi sebelah samping gereja ayam Magelang

Sebagai tambahan wawasan bagi para pembaca, saya akan menyampaikan beberapa informasi yang berhasil saya rangkum dari berbagai sumber mengenai sajarah gereja ayam. Berdirinya gereja ayam tidak lain karena jasa seorang yang bernama Daniel Alamsjah. Pria yang kini sudah berusia cukup lanjut ini berasal dari pulau seberang yakni pulau Sumatera tepatnya dari Propinsi Lampung. Pak Daniel mengaku mendapatkan sebuah mimpi, sebuah mimpi yang mengharuskan baginya untuk membangun sebuah tempat peribadatan yang terletak di atas bukit. Pak Daniel yang kebetulan mendapatkan isteri yakni salah satu warga Gombong ( tempat lokasi berdirinya gereja ) memulai pekerjaannya dengan cara membeli sebidang tanah di bukit Rhema dengan luas 3.000 meter persegi.


Setelah menyelesaikan pembebasan lahan dimulailah pembangunan tempat peribadatan tersebut. Tempat peribadatan yang dibangun adalah berbentuk burung merpati ( namun warga sekitar lebih sering menyebutnya sebagai bentuk ayam ). Burung merpati itu sendiri dalam tradisi agama nasrani merupakan simbol akan roh kudus ( Lukas 3:21-22 ) meskipun sebagian diantaranya menyebutkan roh kudus berbentuk seperti lidah-lidah nyala api ( Kisah para rasul 2:3-4 ).  Dalam pengerjaannya pembangunan gereja ini mengalami kendala pada saat terjadinya krisis moneter yang terjadi pada tahun 1998 silam. Hal itu disebabkan karena tidak adanya modal yang digunakan untuk merampungkan pembangunan yang pengerjaannya sudah jadi 70%. Selain itu hal yang menyebabkan pembangunan “gereja” ( yang notebene merupakan tempat peribadatan untuk semua agama ) ini ditentang oleh warga sekitar, alasannya pun beragam. 

Lantai dasar gereja ayam

Tujuan awal kami tentu ingin segera masuk dan melihat isi di bagian dalam gereja yang konon sudah tidak terawat ini. Kami masuk melalui pintu samping tepat di bagian bawah kepala ayam. Jauh dari perkiraan saya sebelumnya, perkiraan saya tempat ini tidak terawat dan tidak dikelola secara baik, baik itu oleh pribadi maupun masyarakat sekitarnya. Saat saya berkunjung kesana sudah tedapat beberapa petugas yang mengatur jumlah pengunjung yang naik ke lantai atas dari bangunan. Oleh karena waktu itu banyak pengunjung yang datang ke tempat ini, kami dipersilahkan duduk terlebih dahulu. Sambil menunggu antrian untuk dapat ke lantai atas saya berkesempatan untuk mendokumentasikan beberapa gambar di tempat ini. Terlihat beberapa pekerja sedang memperbaiki bagian-bagian dari atap ( punggung ayam ) yang rusak menggunakan mesin las dan peralatan lainnya. Selain itu beberapa pekerja juga sedang melakukan pengecatan ulang pada bagian dinding dari bangunan yang catnya sudah terkelupas akibat dimakan usia.

lantai dasar gereja ayam


Bila kita berada di lantai dasar, tidak ubahnya kita berada pada sebuah aula yang ukurannya cukup besar. Aula yang akan lebih mirip seperti lambung sebuah kapal ini memiliki banyak ventilasi di bagian sampingnya. Pada bagian atas terdapat sebuah ventilasi besar yang berbentuk layaknya tanda ( + ) sebagai pencahayaan utama di lantai dasar. Bila sebagian orang melihatnya sebagai tanda salib, menurut saya kurang pas karena garis tersebut memiliki panjang yang sama. Di tempat ini pula terdapat sebuah layar LCD yang menayangkan video tentang awal mula pembuatan dari gereja ayam dan menampilkan beberapa foto yang diambil sekitar tahun 1990an yakni dokumentasi pribadi milik Daniel Alamsjah. Tidak sempat selesai melihat video yang diputar kami sudah dipanggil oleh petugas yang berjaga untuk segera menuju ke lantai atas.

Tingkat pertama dari gereja ayam

lukisan mural di lantai 1

Naik ke tingkat pertama dari gereja ayam, kita akan memasuki sebuah ruangan yang cukup lubar namun lembab. Di lantai 2 ini kita bisa melihat secara keseluruhan bagian lantai dasar sampai ke bagian ekor dai bangunan. Di tempat ini juga terdapat banyak sekali gambar yang berisikan pesan-pesan mural yang ditujukan terutama untuk generasi muda saat ini. Peringatan agar tidak melakukan sex bebas, mengindari gaya hidup hedonisme, serta menjauhkan diri dari penggunaan narkotika dan obat-obatan berbahaya menjadi pesan utama yang ingin disampaikan pelukis bagi setiap orang yang mengunjungi tempat ini. Ruangan yang hanya mampu untuk menampung beberapa orang saja ini tidak mempunyai jendela sehingga kita tidak bisa melihat sisi luar dari ruangan tersebut.

Tingkat kedua dari gereja ayam

Memasuki tingkat selanjutnya yakni tingkat kedua dari gereja ayam. Pengunjung akan memasuki ruangan yang memiliki ukuran lebih kecil dibandingkan dengan tingkat yang pertama. Meskipun memiliki ukuran ruangan yang lebih kecil, namun di tingkat atau lantai yang kedua ini tidak se “lembab” tingkat yang pertama, hal itu dikarenakan, tempat ini memiliki banyak jendela yang berbentuk jajar genjang serta dapat kita gunakan untuk bisa melihat pemandangan di sekitar bangunan gereja.

mari lestarikan kebudayaan bangsa sebagai warisan dari nenek moyang dan leluhur kita

Di tempat ini pula anda bisa melihat bagian dari atap atau “punggung” bangunan dengan ujungnya berbentuk ekor dan menjulang. Sama halnya dengan tingkat sebelumnya. Di lantai kedua dari bangunan gereja ini terdapat banyak gambar mural yang menampilkan tentang kekayaan kebudayaan bangsa Indonesia dari berbagai propinsi. Kekayaan bangsa Indonesia yang ditampilkan berupa gambar tari-tarian seperti Reog dari Ponorogo, tari Srimpi dari Jawa Tengah dan tari-tarian yang berasal dari suku Dayak Kalimantan. Selain itu terdapat pula beberapa gambar destinasi wisata yang cukup popular dari berbagai propinsi di Indonesia seperti : candi Borobudur yang berada di Magelang Jawa Tengah, Raja Ampat yang berada di Propinsi Papua, dan pantai Bunaken yang berada di Propinsi Sulawesi Utara. Disini pula saya menemukan pesan yang cukup mendalam yang ingin disampaikan oleh pelukis yakni :

“ Dengan mencintai seni budaya Indonesia berarti ikut serta melestarikan warisan nenek moyang “

Sebuah pesan luhur yang disampaikan oleh pelukis untuk kembali merefleksikan jati diri kita sebagai bangsa Indonesia, bangsa yang besar dengan beraneka ragam bahasa dan budaya, bangsa yang memiliki beribu pulau. Tercatat 13.466 pulau yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, bahkan 9.634 diantaranya belum bernama. Di bagian tengah dari ruangan tersebut terdapat lukisan lambang negara kita yakni Pancasila. 

Tingkat ketiga gereja ayam

Memasuki ruangan selanjutnya yakni tingkat ketiga dati gereja ayam. Pengunjung akan masuk ke ruangan yang jauh lebih sempit. Nah bila dilihat dari bagian sisi luar bangunan tingkat ketiga ini berada pada bagian paruh dari ayam ( burung merpati ).

paruh gereja ayam
Ada yang tahu ini bagian apa ???


Di tempat ini disediakan beberapa kursi yang dapat kita gunakan sambil menunggu antrian untuk naik ke bagian mahkota dari burung. Disini pula terdapat petugas yang siap berjaga dan mengatur jumlah pengunjung yang naik ke bagian mahkota atau bagian puncak dari gereja ayam. Di khawatirkan apabila tidak diatur sedemikian rupa maka akan terjadi kelebihan pengunjung dan hal ini justru akan membahayakan pengunjung yang datang ke tempat ini. Sambil menunggu antrian beberapa foto berhasil saya ambil di ruangan ini. 

Tingkat keempat puncak bangunan, bagian mahkota burung

Tibalah giliran bagi kami untuk naik ke bagian puncak atau mahkota burung.  Dengan menaiki tangga yang terbuat dari besi, perlahan-lahan kami naik ke bagian mahkota burung. Rasa takjub menjadi kesan pertama yang saya rasakan ketika sampai di puncak dari bangunan ini. Puncak dari bangunan ini berupa sebuah tempat dengan ukuran sekitar 2x3 meter yang dapat menampung sekitar 8 orang saja. Terdapat beberapa pengaman di tempat ini berupa besi yang menjadi pembatas bagi para pengunjung agar tidak melintasi daerah yang ditentukan. Di tempat ini kita dapat melihat daerah-daerah sekitar wisata Punthuk Setumbu, gunung Merapi, gunung Merbabu, gunung Sindoro serta puncak Suroloyo di sisi sebelah barat.   

Di bagian mahkota gereja ayam
Di bagian mahkota gereja ayam


Tidak lupa terlihat pula hasil karya bangsa kita yakni Candi Borobudur yang gagah berdiri disisi sebelah timur seolah menanti kedatangan kami. Pendapat saya apabila kita mengunjungi tempat ini di pagi hari mungkin akan terasa lebih indah, hal tersebut dikarenakan kita dapat melihat indahnya sang surya muncul dari sisi timur. Tempat ini juga menjadi tempat yang paling ideal untuk mengambil foto dari atas ketinggian. Setelah puas foto-foto maka kami pun turun menuju ke bagian sisi lantai dasar gereja, tempat dimana diputarkan video tentang pembangunan gereja pertama yang awal mulanya ditujukan sebagai tempat berdoa untuk semua agama ini. 

Pemandangan kota Magelang dari bagian atas gereja ayam
Melihat tayangan tersebut kita akan mengetahui tentang tempat ini tempo dahulu. Tempat yang masih sangat sepi dan penuh oleh pohon-pohon yang menjulang tinggi. Diperlihatkan pula tayangan dimana warga sekitar bahu membahu mengangkut segala hal yang dibutuhkan untuk dapat membangun tempat peribadatan yang diimpikan oleh sosok Daniel Alamsjah. Mereka mengangkut semen, batu-batuan dan peralatan lainnya yang berasal dari tempat yang cukup jauh. Di suatu tayangan terlihat pak daniel yang ditemani oleh reporter masuk ke dalam ruangan bawah tanah. Rasa penasaran saya pun terusik untuk mencari tempat atau pintu masuk ke ruangan bawah tanah tersebut. Ternyata untuk bisa masuk ke dalam ruangan bawah terdapat sebuah pintu yang berada tepat di bagian bawah ekor. Kami pun meminta ijin kepada beberapa pekerja yang kebetulan sedang melakukan perbaikan di bagian-bagian sekitar ekor bangunan.

Ruangan bawah sebagai tempat doa

Memasuki ruangan bawah kesan pertama yang saya rasakan adalah kesan angker. Hal itu dikarenakan tempat ini sangat gelap dengan sedikit pencahayaan dan sangat lembab. Ruangan ini sangat luas dan berbentuk labirin-labirin dengan ukuran sekitar 2x2,5m. Memasuki lorong di tempat ini seperti berjalan di dalam goa atau seperti ketika saya mengunjungi ruang bagian bawah dari bangunan lawang sewu di semarang.

Ruang doa bagian baseman gereja ayam

Di bagian ini pula terdapat pula toilet dan kamar tempat bagi para pekerja untuk beristirahat. Disini terpampang sebuah relief tentang sejarah berdirinya bukit Rhema. Hasil permenungan dan perjalanan iman seorag Daniel Alamsjah untuk mendirikan tempat doa bagi orang yang percaya kepada Tuhan yang berlokasi di atas bukit Rhema. Menurut beberapa orang yang berhasil saya wawancarai, ruangan bawah yang berbentuk seperti labirin tersebut ditujukan sebagai tempat untuk berdoa.

Hal yang perlu anda ketahui mengena gereja ayam

  1. Lebih terkenal sebagai gereja ayam dibandingkan dengan gereja merpati. Masyarakat sekitar atau bahkan kita lebih mengenalnya sebagai “ gereja ayam ”, namun menurut pendiri tempat ini yakni Bapak Daniel Alamsjah. Bentuk bangunan ini adalah berbentuk burung merpati. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa burung merpati merupakan lambang akan roh kudus dalam kepercayaan Nasrani. Namun karena sudah terlanjur terkenal dengan sebutan gereja ayam, maka sampai saat inipun orang enggan merubah pandangan mereka meskipun sudah mengetahui kebenarannya
  2. Bangunan ini sempat tidak terurus. Akibat proses pembangunan yang harus dihentikan tepatnya sejak tahun 2000, otomatis bangunan unik ini sempat tidak terurus. Akibatnya tempat ini menjadi tempat yang dikenal angker dan beberapa bagian dari tempat ini menjadi korban aksi vandalisme yang banyak dilakukan oleh tangan-tangan jahil yang tidak bertanggung jawab. Namun saat ini tempat ini sudah berbenah, beberapa bagian yang menjadi “korban” aksi vandalisme sudah ditutup menggunakan cat dan beberapa bagian bangunan ( termasuk bagian atap ) juga mulai diperbaiki.
  3. Tempat ibadah untuk semua agama. Berepa orang mungkin beranggapan bahwa tempat ini merupakan sebuah gereja, hal tersebut memang sangatlah wajar mengingat pendiri tempat ini merupakan pemeluk agama kristen, namun tujuan awal tempat ini dibangun bukanlah ditujukan sebagai gereja, namun ditujukan sebagai "rumah doa" bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan. 

Tempat wisata lain yang bisa anda kunjungi di sekitar gereja ayam :

Jika anda mengunjungi gereja ayam tentu tidak lengkap rasanya jika tidak mengunjungi tempat wisata lainnya di wilayah Magelang yang tidak kalah menarik. Kabupaten ini memang memiiliki destinasi wisata yang menarik baik itu wisata alam maupun wisata budaya. Adapun beberapa tempat wisata yang cukup populer di Kabupaten Magelang diantaranya :

  1. Rafting sungai Elo. Menikmati derasnya aliran sungai Elo sepanjang 12 km menggunakan perahu. Bagi kamu yang suka kegiatan outdoor dan kegiatan seru yang dapat memacu adrenalinmu, kamu perlu mencoba untuk Rafting di tempat ini. Jarak antara Citra Elo (basecamp Rafting ) dari gereja ayam sekitar 10 km. Untuk informasi lebih lanjut, anda bisa membaca pengalaman rafting di sungai elo yang sudah saya tulis beberapa waktu yang lalu. 
  2. Wisata Punthuk Setumbu. Sama seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya. Wisata alam Punthuk Setumbu merupakan wisata alam di atas ketinggian, tepatnya di sisi sebelah barat gereja ayam atau candi Borobudur. Di tempat ini kamu bisa melihat candi Borobudur dari atas ketinggian dan dapat melihat indahnya sunrise terbaik terutama di kawasan Kabupaten Magelang.
  3. Candi Mendut. Menengok hasil karya bangsa Indonesia, peninggalan kerajaan yang masih gagah berdiri. Candi  Mendut didirikan oleh Samaratungga, disebut pula Shrimat Venuvena yang berarti hutan Bambu. Bangunan ini disebut juga Jina  Mandira atau candi sang Jina / Budha Gautama. Candi merupakan tempat peribadatan umat Budha, khususnya para mahasiswa Bumishambarabudhara.
  4. Candi Borobudur. Merupakan warisan budaya bangsa Indonesia yang terkenal hingga mancanegara, dan menjadikannya salah satu warisan dunia yang ditetapkan oleh UNESCO. Bangunan suci utama bertingkat sepuluh ini merupakan bangunan terbesar diantara tiga candi di sekitarnya, yakni candi Mendut dan candi Pawon. Ketiga candi tersebut merupakan candi yang didirikan oleh Samaratungga. Tempat mencapai kesempurnaan abadi ( Dara Badhi Satwa Bumi )

    Kesimpulan

    Saya sangat senang sekali bisa mengunjungi tempat ini, selain memiliki bangunan yang unik tempat ini memiliki nilai sejarah tersendiri. Kekaguman saya terhadap sosok Daniel Alamsjah yang mau mendengarkan "suara hatinya" untuk bisa berbagi dengan sesama melalui pembangunan tempat peribadatan yang saat ini dapat anda kunjungi setiap harinya. Semoga saja pembangunan tempat ini dapat dilanjutkan dan tempat ini dapat difungsikan sebagai mana seperti tujuan awal tempat ini di bangun dan dapat memberikan kegembiraan dan sukacita bagi setiap orang yang mengunjunginya.  


    Bagi rekan-rekan yang ingin mengunjungi tempat ini, rekan-rekan tidak harus melalui wisata Punthuk Setumbu yang notabene harus berjalan cukup jauh untuk sampai ke tempat ini. Jalan menuju bukit Rhema atau gereja ayam dapat anda akses melalui pertigaan sebelum Punthuk Setumbu ( Perhatikan tanda yang menunjukkan arah ke bukit Rhema ). 

    Subscribe to receive free email updates:

    15 Responses to "Jalan-jalan ke gereja ayam bukit rhema magelang, tempat syuting AADC 2"

    1. Wah, aku baca tulisan ini setidaknya jadi gak penasaran banget sama gereja ayam. Tapi aku harus bisa kesana.. Semoga bisa kesana dengan bersepeda..

      Keren juga dalamnya ya, luas gitu..

      ReplyDelete
      Replies
      1. iya mas, monggo kesana, dijamin g mengekecewakan. jauh" dari Yogya rencana nyepeda mas??

        Delete
      2. Pengennya mas, pernah aku nyepeda ke hutan pinus, ke gunung kidul. Gitu mas.. hehe
        Cari aja di blogku dengan kata kunci gowes.. hehe..

        Delete
      3. pengalaman gowes njenengan dah banyak mas :D kalo saya sudah dah g kuat...terakhir gowes sama temen-temen dari klaten ke parangtritis tp sudah beberapa tahun yag lalu

        Delete
    2. Keren artikelnya, jd semakin pengen kesana kak :D

      ReplyDelete
      Replies
      1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

        Delete
    3. Rame bgt ya skarang, naik ke atas harus antri

      ReplyDelete
      Replies
      1. saya kesana hari jumat aja antri bgt mas, apalagi hari minggu, tapi g tau juga kalo pas g liburan....soale saya kesananya pas musim liburan

        Delete
    4. Ada angkutan buat kesana g mas??

      ReplyDelete
      Replies
      1. setahu saya angkutane ya pas masuk ke arah bukit rhema itu mas andrea...nanti diangkut pakai kendaraan bak terbuka

        Delete
    5. Mantab nie, pengen segera bisa kesana :D sekalian mau ke borobudur

      ReplyDelete
      Replies
      1. Silahkan mbak, ajak tmn atau keluarga juga :D

        Delete
    6. unik juga ya nama gerejanya

      ReplyDelete
      Replies
      1. Iya mas Ahmad, sekali kali maenlah kesini mas :D bukan gereja mas melainkan tempat untuk berdoa semua agama,terimakasih sudah berkunjung, salam kenal

        Delete
    7. Saya sebenarnya juga pengen kesana mas, cuma belum sempat, membaca artikel ini setidaknya saya dapat referensi

      ReplyDelete