Showing posts with label alam. Show all posts
Showing posts with label alam. Show all posts

Monday, 30 October 2017

menepi sejenak di air terjun sri gethuk gunungkidul, wisata air berlokasi tengah pegunungan sewu

Rute menuju Air Terjun Sri Gethuk dapat ditempuh melalui Piyungan dan melalui Imogiri. Air Terjun Sri Gethuk merupakan wisata alam yang berlokasi di Bleberan, Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta. Air Terjun Sri Gethuk selain menawarkan panorama alam yang indah juga menyimpan mitos atau misteri yang berkembang di masyarakat di sekitarnya. Panorama yang indah dan masih sangat alami menjadikan wisata ini patut anda kunjungi terutama bila anda berlibur ke Kabupaten Gunungkidul.

Perjalanan saya menuju ke tempat wisata Air Terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul dimulai dari Klaten, tempat tinggal saya. Sebelumnya, saya berencana berangkat dari Klaten sekitar jam 07:00 namun karena ada sesuatu hal, jadwal yang semula berangkat pagi harus berubah, saya berangkat dari Klaten jam 08:30. Sebelum berangkat saya harus menunggu rekan saya terlebih dahulu, dia berangkat dari Solo dengan menggunakan bus dan berhenti di Tegalmas Klaten. Kita sarapan terlebih dahulu di salah satu warung makan di daerah Klaten, pengalaman berwisata sebelum makan pagi itu tidak menyenangkan, karena jika makan di tempat wisata kita mungkin akan lebih tidak bisa menikmati makanan kita karena harus berdesak-desakan dengan pengunjung yang lain. 

air terjun sri gethuk gunungkidul


Rencana mengunjungi Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul sebenarnya sudah dari tahun lalu. Tahun lalu saya diberikan kesempatan mengunjungi Gunung Api Purba dan menjadikan Air Terjun Sri Getuk menjadi wisata tujuan no.2 setelah selesai mengunjungi Gunung Api Purba. Namun karena waktu itu hujan deras dan cuaca sangat tidak mendukung, maka kami mengurungkan diri untuk “mampir” di air terjun Sri Gethuk, padahal pada waktu itu kita sudah sampai di daerah Puskesmas Playen II yang letaknya tidak terlalu jauh dari air terjun Sri Gethukyang hanya tinggal beberapa menit perjalanan sebenarnya kita sudah sampai. Oleh karenanya perjalanan wisata kali ini merupakan rencana lama yang belum terealisasi.

Rute Menuju Air Terjun Sri Gethuk

Rute menuju Air Terjun Sri Gethuk Gunungkidul sebenarnya sangat mudah kita temukan. Jalan menuju tempat wisata ini sudah dilengkapi dengan penunjuk jalan yang cukup jelas dan kondisi jalanpun sudah diaspal sehingga akan sangat mudah kita lalui. Hanya saja jalan di area tempat wisata belum diperbaiki sehingga akan sedikit menyusahkan kita ketika masuk ke gerbang wisata menuju ke area parkir wisata.

  1. Rute menuju air terjun Sri Gethuk dari Yogyakarta melalui Piyungan. Bila anda berasal dari kota Yogyakarta anda bisa melakukan perjalanan melalui Prambanan ataupun melalui Gedongkuning. Dari arah kota Yogyakarta – pertigaan Janti ke selatan melalui fly over   – pertigaan Gedongkuning ke arah timur menuju ke arah Piyungan – pertigaan Piyungan naik ke arah bukit Pathuk Gunungkidul, melintasi jalan Wonosari-Yogyakarta – sampai di Lapangan Gading kita berbelok ke kanan ke arah kecamatan Playen - ikuti jalan tersebut sampai menemukan puskesmas Playen I- belok ke kanan ke arah kecamatan Paliyan – ikuti jalan tersebut – sekitar 2 km perjalanan anda akan menemukan pertigaan ( perhatikan papan penunjuk jalan ke arah air Terjun Sri Getuk Gunungkidul ) dari pertigaan tersebut kita ambil kanan dan ikuti arah saja sampai menemukan TPR pintu masuk Air Terjun Sri Gethuk Playen, Gunungkidul.
  2. Rute menuju air terjun Sri Gethuk dari Yogyakarta melalui Imogiri. Jogja - Jalan Imogiri Barat - Jalan Panggang – Kecamatan Panggang – Kecamatan Paliyan – Menuju arah Pasar Playen – Sebelum Pasar Playen belok kiri (Pertigaan arah Desa Banyusoca) - Arah Goa Rancang Kencono - Air Terjun Sri Gethuk.


Harga tiket masuk air terjun Sri Gethuk Gunungkidul 

Setelah menempuh perjalanan yang cukup memakan waktu ( 1,5 jam perjalanan dari Klaten ) akhirnya kita sampai ke pintu masuk kawasan wisata air terjun Sri Gethuk Gunungkidul. Gapura pintu masuk kawasan air terjun Sri Gethuk seakan menyambut kedatangan kami berdua. Perkiraan saya hanya memerlukan waktu 1 jam perjalanan untuk sampai di Sri Gethuk. Memang pada waktu itu bertepatan dengan akhir pekan sehingga jalanan Yogya-Wonosari sangat ramai dan macet terutama pada daerah Putat dan Sambi Pitu. Sesampainya di Gapura masuk tempat wisata air terjun Sri Gethuk kami melakukan pembayaran tiket masuk dan biaya  parkir. Perhatian saya waktu itu pada tempat parkir motor yang terlihat sangat tidak terawat dilihat dari arah luar gapura, sampai-sampai lupa menunggu uang kembalian biaya tiket masuk. Untungnya petugas langsung berteriak “ mas..mas..uang kembaliannya jangan lupa “ duh malunya saya. Setelah menerima uang kembalian saya bertanya tentang parkir kendaraan bermotor apakah bisa masuk sampai dekat dengan air terjun atau harus dekat dengan pintu masuk. Petugas disana memang menganjurkan kita untuk memarkir kendaraan kita di bagian dalam dekat dengan lokasi air terjun Sri Gethuk bukan pada area parkir di daerah pintu masuk kawasan air terjun Sri Gethuk.

kondisi jalan yang seperti ini harus kamu lalui untuk bisa mencapai
air terjun Srti Gethuk

Untuk menuju tempat parkir ternyata masih memerlukan perjuangan lagi karena ternyata lokasi air terjun Sri Gethuk masih cukup jauh dari gapura masuk. Kita harus melewati jalanan yang menurun di tengah pepohonan jati yang masih banyak tumbuh di area ini. Jalanan tersebut belum diaspal dan banyak terdapat genangan air karena sebelumnya turun hujan, oleh karenanya sebaiknya anda berhati-hati ketika melintasi daerah ini. Sampai di tempat parkir kita segera memarkir kendaraan kita dan langsung menuju ke lokasi air terjun Sri Gethuk Gunungkidul.


Kawasan air terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul 

Hal pertama yang dapat kita temukan ketika masuk ke lokasi tempat wisata air terjun Sri Gethuk Gunungkidul adalah penjual makanan dan pakaian yang banyak terdapat di bagian samping pintu masuk. Bagi kamu yang ingin mandi atau bermain air di air terjun tapi lupa membawa pakaian ganti jangan khawatir karena di tempat ini menyediakan banyak pakaian baik celana ataupun baju ganti yang bisa kamu dapatkan dengan biaya yang cukup terjangkau. Tidak jauh dari penjual pakaian terdapat tulisan " Air Terjun Sri Gethuk " dalam ukuran yang cukup besar sebagai tanda bahwa anda sudah berada di lokasi air terjun Sri Gethuk.

air terjun sri gethuk gunungkidul


Kita harus turun untuk dapat mencapai air terjun dan melewati jalanan setapak yang cukup licin dan terbuat dari mistar. Untuk mencapai lokasi air terjun Sri Gethuk kita dapat memilih menggunakan perahu atau jalan kaki. Pada awalnya kita berbelok ke kiri dan sampai di bagian loket perahu. Di loket ini anda bisa naik perahu untuk mencapai lokasi air terjun, kita juga ditawari beberapa paket wisata Sri Gethuk diantaranya : Body Rafting, Flyng Fox dan Canyoning, setiap paket wisata memiliki biaya yang berbeda dan disertai dengan pendampingan instruktur yang terlatih. 

air terjun sri gethuk gunungkidul
Berjalan menyusuri tepian sungai Oyo

Kita lebih memilih jalan kaki menuju ke lokasi air terjun dengan melewati jalan tepatnya di bagian tepi kanan sungai Oyo. Pada waktu kami berkunjung ke air terjun Sri Gethuk Yogyakarta kami bertepatan dengan musim penghujan sehingga kondisi sungai oyo yang tenang dan jernih tidak bisa kita dapatkan melainkan kondisi sungai yang berwarna coklat kotor ditambah dengan arus yang mengalir cukup deras. 

air terjun sri gethuk gunungkidul
salah satu cara untuk meruju lokasi air terjun adalah dengan naik perahu

Jika berjalan kaki kita harus menempuh perjalanan sekitar 10 menit dengan berjalan dari arah pintu masuk menuju ke lokasi air terjun. Di kawasan ini masih sangat alami dengan pemandangan sekitar yang masih sangat hijau. Kita dapat melihat aktifitas warga yang sedang melakukan kegiatan bertani dan mencari rumput untuk pakan ternak mereka. Setelah beberapa waktu berjalan kita belum sampai di lokasi air terjun Sri Gethuk dan bertanya kepada salah satu ibu-ibu penjual makanan yang lewat dan berpapasan dengan kami. 

nyuwun pangapunten bu, badhe nyuwun pirso, air terjunipun tasih tebih mboten nggih ??“ 
Penjual makanan : “ Kog ndak naik perahu mawon mas to mas??, lebih cepet sampai, air terjune namung mriku kog, mboten tebih, wonten tikungan belok mengiwo

Begitulah percakapan saya dengan penjual makanan yang kebetulan berpapasan di jalan. Sesuai dengan anjuran dan petunjuk dari ibu-ibu tadi, kita menyusuri jalanan dan berbelok ke arah kiri ketika sampai di belokan di tengah area persawahan, setelah agak jauh berjalan “kog g sampai-sampai to??!!”, beitulah kata yang terucap dari mulut rekanku. Mungkin ukuran dekatnya warga sekitar dengan ukuran dekatnya kita berbeda jawabku...tidak beberapa jauh melangkah benar saja, Sampailah kita pada sebuah bangunan tempat penjagaan kawasan air terjun Sri Gethuk Gunungkidul. Tempat ini juga sebagai tempat pemberhentian wisatawan yang memilih menggunakan perahu untuk menuju lokasi air terjun.


Pesona keindahan air terjun Sri Gethuk 

Sesampainya di bangunan pos penjagaan kita tidak langsung bisa menemukan air terjun Sri Gethuk karena lokasinya cukup tersembuyi di balik pepohonan. Apabila kita sedikit ke bagian samping pos penjagaan barulah kita dapat melihat air terjun Sri Gethuk dari dekat. Terlihat air jernih mengalir diantara bebatuan menuju ke arah sungai Oyo. Kondisi air terjun Sri Gethuk jauh dari perkiraan kami ketika kami tiba di lokasi ini, di awal kami sudah berpendapat bahwa kemungkinan air terjun akan sangat keruh karena pada waktu itu musim penghujan dan air aliran sungai Oyo terlihat kecoklatan karena bercampur dengan lumpur, hal itu tidak kami temukan di aliran air terjun Sri Gethuk. Air yang mengalir dari atas tebing terlihat jernih. Tiba di lokasi ini kita bertemu dengan beberapa pengunjung yang datang lebih dulu, beberapa diantaranya mandi dan bermain air  dan sisanya memilih untuk duduk-duduk di tempat duduk yang telah disediakan di bagian samping air terjun.

air terjun sri gethuk gunungkidul
lokasi air terjun di balik pepohonan 

Karena sudah jauh-jauh datang ke tempat tersebut tidak puas rasanya kalau tidak bermain air. Sebelum kami bermain air, kami memilih untuk naik ke sisi sebelah kiri dan mengabadikan beberapa pemandangan yang bisa tertangkap dengan lensa kamera kami. Terlihat air dengan cukup deras jatuh dari atas ketinggian dan membentuk sebuah kolam kecil di bawahnya, kolam tersebut dapat dimanfaatkan sebagai tempat untuk mandi bagi para pengunjung yang datang. Tidak seperti di air terjun lainnya yang aliran airnya sangat deras dan langsung jatuh menimpa permukaan tanah, aliran air terjun di wisata air terjun Sri Gethuk tidak langsung jatuh ke bagian bawah melainkan melewati beberapa trap atau menimpa tebing terlebih dahulu sebelum sampai ke permukaan tanah. Hal ini justru menjadi pemandangan yang menarik, karena cipratan air dari tebing terbias oleh cahaya matahari dari bagian atas menjadikan butiran butiran kecil mirip dengan embun. Di area ini juga terdapat beberapa aliran air yang lain tepatnya di sisi sebelah kiri. Kita harus naik ke bagian atas tebing kecil terlebih dahulu untuk dapat menjangkaunya.

air terjun sri gethuk gunungkidul
pemandangan yang seperti ini yang jarang bisa kita lihat di kota

Di lokasi bawah air terjun terdapat sebuah larangan untuk berhati-hati dan tidak mendekati tebing karena kawasan tersebut rawan terjadi longsor. Memang benar, dilihat dari beberapa bongkahan batu disekitar air terjun tersebut memang terlihat sebagai sisa dari longsoran terdahulu dan masih besar kemungkinan tebing di bagian hilir dari air terjun dapat terjadi longsor. Oleh karenanya bagi kamu yang mengunjungi tempat ini sebaiknya berhati-hati dengan mematuhi aturan yang ada.

air terjun sri gethuk gunungkidul
si item orange ikut nampang

Karena pada waktu itu siang hari dan udara sekitar sangat panas, kami memilih untuk mencari tempat untuk berteduh tepatnya di bagian sisi kiri dari air terjun. Lokasi yang menjadi tempat yang ideal untuk dapat menikmati air terjun dari atas ketinggian sambil melihat derasnya aliran sungai Oyo yang berwarna keruh. Bila anda mengunjungi di blog lain mungkin anda akan mendapati pemandangan air yang berwarna hijau tosca yang terdapat di sekitar tepi sungai. Aliran air tersebut dimungkinkan karena adanya batuan kapur yang mengendap di bagian dasar sungai dan akan berwarna terutama bila terkena sinar matahari, mirip dengan air yang berada di air terjun Kedung Pedut kulonprogo. Meskipun aliran air yang pada saat itu sangat deras dan berwarna keruh hal itu tidak menyurutkan niat para pencari ikan yang dapat kita temui pada sisi seberang dari air terjun. Sayangnya kami tidak bisa mendokumentasikan para pencari ikan karena kamera smartphone kami tidak terlalu bagus untuk mengambil gambar dari kejauhan.


Mitos air terjun Sri Gethuk

Mengutip informasi dari beberapa blog, saya menemukan mitos mengenai air terjun Sri Gethuk, mitos yang berkembang di masyarakat bahwa air terjun Sri Gethuk konon merupakan tempat yang cukup angker. Mengapa demikian? Air terjun Sri Gethuk dipercaya oleh masyarakat sekitar sebagai tempat yang dihuni sebangsa Jin. Jin yang menyukai instrument terutama suara gamelan menjadikan daerah air terjun Sri Gethuk sebagai tempat untuk menyimpan salah satu alat musik gamelan yang disebut dengan “kethuk”. Sampai saat ini konon masyarakat sekitar masih saja mendengar suara yang dihasilkan alat musik tersebut.

Fenomena geologi air terjun Sri Gethuk

Sungai yang berasal dari ketinggian pematang batu gamping, memotong tebing batuan dan membentuk air terjun yang sebelum akhirnya memotong sungai Oyo membentuk george. Air terjun ini terbentuk pada batu gamping berlapis dengan formasi Oyo yang tersingkap di daerah Plato Wonosari. Batu Gamping yeng terbentuk di laut dangkal  antara 15- 2 juta tahun lalu ini bersisipan dengan napal.

Fasilitas di air terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul

Bila anda mengunjungi ke air terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul, selain dapat menikmati keindahan dari air terjun, anda juga dapat menikmati fasilitas lainnya yang disediakan oleh pihak pengelola. Beberapa fasilitas di tempat ini yang bisa anda manfaatkan diantaranya adalah :
  • Area pemancingan. Di Air terjun kog ada area pemancingan ?! memang ada kawan tepatnya di sisi kanan pintu masuk setelah tempat parkir kendaraan bermotor. Di area ini anda bisa melakukan kegiatan memancing dengan membayar biaya yang ditetapkan pihak pengelola. Pada saat saya kesana area ini sepi pungunjung, adanya hanyalah beberapa anak yang sibuk dengan alat pancing mereka.
  • Body rafting. Bila  kamu suka olahraga air dan tidak cukup hanya bermain aiar atau basah-basahan di air terjun kamu bisa melakukan body rafting. Body rafting akan ditemani aleh pemandu yang terlatih dan kamu akan diajak menyusuri sungai oyo dengan dibekali peralatan yang safety berupa pelampung. Untuk dapat menikmati fasilitas ini kamu bisa membayar Rp. 35.000;
  • Flyng fox. Selain terdapat area pemancingan dan body rafting, kamu juga bisa melakukan flyng fox. Flyng fox di tempat ini memiliki lintasan sepanjang 125 m dengan meluncur di atas permukaan aliran sungai Oyo.
  • Canyoning. Bagi kamu yang suka akan tantangan di atas ketinggian kamu juga bisa melakukan canyoning atau rapling dengan menuruni sisi aliran air terjun Sri Gethuk dengan menggunakan tali. Jangan kawatir kamu akan terjatuh, terdapat beberapa instruktur yang siap memandumu dan membantumu bila kamu menemui kesulitan.

Sarana dan prasarana di air terjun Sri Gethuk 

Parkir yang luas. Pada awalnya kami beranggapan bahwa hanya sepeda motor saja yang bisa mencapai lokasi air terjun Sri Gethuk, namun ternyata kendaraan beroda empat bahkan minibus juga dapat mencapai kawasan ini. Terdapat area parkir yang cukup luas untuk bisa menampung kendaraan pengunjung yang datang ke tempat ini. Namun sangat disayangkan area parkir termasuk belum memadai karena tidak dilengkapi dengan atap sehingga apabila hujan turun maka kendaraan termasuk helm anda akan basah.
Toilet dan kamar mandi. Tidak lengkap rasanya jika suatu tempat wisata tidak dilengkapi dengan toilet atu kamar mandi. Di kawasan air terjun Sri Gethuk terdapat beberapa toilet serta kamar mandi yang bisa anda gunakan sebagai tempat untuk mandi dan membersihkan diri setelah selesai bermain air.

air terjun sri gethuk gunungkidul
gszebo yang bisa dijadikan tempat untuk beristirahat
Gazebo di beberapa tempat. Di  kawasan air terjun Sri Gethuk terdapat beberapa gazebo yang bisa andai pakai untuk beristirahat. Bagi yang membawa anak kecil dengan adanya gazebo ini akan sangat membantu. Anda bisa beristirahat di gazebo dan memesan aneka makanan yang dijajakan oleh penjual di sekitar air terjun.
Mushola. Di tempat wisata air terjun Sri gethuk juga menyediakan sebuah mushola bagi anda yang menjalankan sholat. Lokasi ,ushola ini terdapat dekat dengan lokasi pemancingan. 

Informasi lainnya


Informasi
Keterangan
Alamat air terjun Sri Gethuk
Bleberan, Playen, Bleberan, Playen, Kabupaten Gunung Kidul, Daerah Istimewa Yogyakarta
Biaya masuk wisata air terjun
Rp.10.000;
Biaya parkir sepeda motor & bus
Rp.2.000; & Rp 15.000;
Biaya body rafting, Flyng Fox & Canyoning
Rp. Rp.35.000, Rp.25.000; & Rp 125.000 ( minim 10 orang )
Transportasi umum
Beum ada
Lama perjalanan dari yogyakarta
1,5 jam
Wisata terdekat
Gunung Api Purba, Embung Nglanggeran

Tempat wisata Air Terjun Sri Gethuk Playen Gunungkidul menawarkan pesona alam yang sangat indah dan dapat jadikan salah satu tujuan wisata anda ketika berlibur di Yogyakarta khususnya di Kabupaten Gunungkidul. Selain dapat melihat keindahan dari air terjun, anda juga dapat melihat keindahan alam khas pegunungan sewu dengan bukit kapur yang menjulang tinggi dan dapat melihat akltifitas warga sekitar dalam bercocok tanam mengelola lahan pertanian. Usaha masyarakat sekitar untuk menjaga lingkungan tetap bersih dan asri sangat terlihat bila kita mengunjungi kawasan ini. Aliran air baik itu di sungai maupun di beberapa parit di wilayah tersebut tidak terdapat sampah yang biasa kita lihat di beberapa kota besar. Namun agaknya ada beberapa hal yang perlu dibenahi oleh pihak pengelola wisata ini. Selain fasilitas area parkit yang kurang memadai, akses jalan masuk ke area ini mungkin juga perlu dibenahi. Memang dengan manuruni jalanan setapak yang belum diaspal atau dimistar akan memiliki kesan alami, namun hal ini akan berbahaya bilamana musim hujan tiba sehingga pengunjung yang lewat akan akan beresiko tergelincir.

Sekian pengalaman saya mengunjungi wisata Air Terjun Sri Gethuk yang berada di kecamatan Playen Kabupaten Gunungkidul ini. Air terjun ini apabila di hari-hari biasa cukuplah sepi akan pengunjung, sehingga menjadi tempat yang ideal bagi kita untuk sekedar menepi.

  

Blusukan ke air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo, Yogyakarta

Air Terjun Grojogan Sewu, Kulonprogo, Yogyakarta berlokasi di Desa Beteng, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Rute untuk sampai ke air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo sangat mudah kita temukan. Lokasi air terjun ini tidak berjarak kurang lebih 2 km dari pasar Jonggrangan, Kulonprogo.

Kabupaten Kulonprogo Yogyakarta sudah mencuri perhatian saya akhir-akhir ini karena alamnya yang indah serta memiliki tempat wisata yang unik untuk dikunjungi. Memang jika kita berbicara wisata alam yang berada di Yogyakarta seakan tidak akan ada habisnya. Di Kabupaten yang mendapat sebutan sebagai The Jewel of Java ini setidaknya memiliki beberapa wisata berupa kawasan air terjun. Salah satu air terjun yang berada di Kabupaten ini adalah air terjun Grojogan Sewu yang letaknya tidak jauh dari air terjun Kedung Pedut dan air terjun Kembang Soka.

air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo
air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo


Air Terjun Grojogan Sewu Kulonprogo berbeda dengan air terjun Grojogan Sewu yang berada di Kabupaten Karanganyar, Propinsi Jawa Tengah. Memang keduanya memiliki nama atau sebutan yang sama namun meskipun memiliki sebutan yang sama, kedua air terjun ini memiliki karakteristik yang berbeda. Air terjun Grojogan Sewu yang berada di Kulonprogo memiliki ketinggian yang jauh lebih rendah dibanding dengan air terjun Grojogan Sewu yang berada di Karanganyar. Namun meskipun lebih rendah, bukan berarti air terjun ini kalah menarik. Lokasinya yang tersembunyi di kawasan perbukitan serta panorama alam sekitarnya yang masih sangat asri dan alami membuat nilai lebih kawasan wisata air terjun ini. Hal itu, ditambah lagi dengan lokasinya yang berdekatan dengan kawasan wisata alam lainnya yakni air terjun Kedung Pedut, air terjun Kembangsoka serta Taman Sungai Mudal membuat wisatawan akan memiliki tempat tujuan alternatif lainnya.

Rute menuju air Terjun Grojogan Sewu Kulonprogo Yogyakarta     

Rute menuju air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo dari Yogyakarta - Tugu Yogyakarta ke barat - Ringroad Barat - Jalan Godean - Pasar Godean - Melewati Jembatan Sungai Progo- Perempatan Bangjo Nanggulan - Lurus menuju ke arah wisata Goa Kiskendo ( Melewati Tanjakan Perbukitan menoreh yang panjang )  ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pasar Jonggrangan - Pasar Jonggrangan - dari pasar Jonggrangan maju sedikit ada pertigaan di sisi kiri jalan- ikuti jalan tersebut. Untuk bisa sampai ke Grojogan Sewu Kulonprogo rekan-rekan harus menempuh perjalanan sekitar 2 km lagi melewati jalan perkampungan yang masih sepi. Perhatikan penunjuk jalan yang sudah tersedia disana.

Rute atau jalan menuju ke air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo juga dapat rekan-rekan tempuh melalui jalur menuju ke air terjun Kedung Pedut atau air terjun Kembangsoka. Dari pertigaan sesudah wisata Goa Kiskendo kita ambil ke arah kiri menuju ke Kokap, Wates atau waduk Sermo. Ikuti jalan tersebut sampai menemukan pertigaan ( perhatikan papan penunjuk arah ). Kita belok ke kiri dan harus menempuh jarak sekitar 2 km untuk bisa sampai ke lokasi air terjun Grojogan sewu Kulonprogo.

Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo

Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo
Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo
Saya berangkat dari Klaten sekitar jam 7 pagi dan sengaja berangkat pagi untuk mengantisipasi kemacetan di Kota Yogyakarta. Di sepanjang perjalanan menuju ke air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo kita akan dimanjakan dengan keindahan pemandangan Perbukitan Menoreh yang masih nampak sangat hijau. Hamparan padi yang mulai menguning dapat terlihat di kawasan setelah perempatan nanggulan. Sampai di pertigaan pasar Jonggrangan, untuk bisa sampai ke air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo kita harus belok ke kiri kurang lebih 2 km memasuki jalanan setapak di tengah perkebunan warga. Melewati jalanan di daerah ini saya sudah bisa membayangkan kondisi air terjun yang masih sepi dan alami.


Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo
Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo
Pasalnya jalan masuk ke lokasi air terjun masih tergolong sepi dan jalanan yang ada masih dalam tahap perbaikan dengan tatanan batu meskipun sebagian sudah dimistar. Di jalan masuk ke arah air terjun kita bisa menemukan penduduk sekitar yang sedang menggarap ladang mereka, mencari rumput untuk pakan ternak dan beberapa diantaranya sedang mencari kayu bakar. Saat itu saya menemui seorang ibu-ibu yang membawa pakan ternak dan sempat bertanya kepadanya tentang lokasi air terjun. Beliau menginformasikan kepada saya, untuk bisa sampai air terjun Grojogan Sewu kita harus berbelok ke arah kanan di pertigaan depan kami. segeralah kami memacu kendaraan melewati jalanan yang berkelok untuk bisa segera sampai di air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo. Tepat pukul 09:00 saya sudah sampai di lokasi air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo yakni di Desa Beteng, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo, Yogyakarta. Sampai di kawasan ini kami memarkirkan kendaraan di salah seorang rumah warga sekitar dan setelah itu menuju ke loket yang menyediakan tiket masuk. Dengan membayar Rp.4.000; kita sudah bisa menikmati keindahan alam yang ditawarkan oleh air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo.

Mitos air terjun Grojogan Sewu

Pintu Gerbang Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo
Pintu Gerbang Rute Menuju  air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo


" Selamat datang di Grojogan Sewu " Itulah tulisan yang berada di dekat gapura masuk air terjun. Di dekat gapura masuk  terdapat sebuah papan informasi mengenai asal usul serta peta dari air terjun Grojogan Sewu. Darisana dapat saya peroleh informasi bahwasanya air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo memiliki kaitan erat dengan legenda pewayangan Mahabarata. Konon, Prabu Kresna meminta kakaknya, Prabu Baladewa untuk bertapa di Grojogan Sewu Kulonprogo agar kakaknya tidak ikut perang Baratayudha, sehingga saat perang pecah, Prabu Baladewa tetap bertapa. Tidak jauh dari air terjun terdapat Goa yang disebut dengan Goa Pleret oleh masyarakat sekitarnya. Banyak yang percaya bahwa di tempat ini Prabu Baladewa bertapa.    

Lokasinya yang tersembunyi

Tidak mau membuang banyak waktu, segeralah saya menuju ke lokasi air terjun Grojogan Sewu. Menurut petugas yang menjual tiket masuk, jarak antara pintu masuk dengan lokasi air terjun kurang lebih 100 meter dengan melewati jalanan yang sudah di semen dan melewati kebun milik warga sekitar. Sama halnya dengan beberapa wisata alam yang berada di Kulonprogo, untuk bisa mencapai lokasi air terjun kita harus berjalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh. Memasuki area wisata air terjun Grojogan Sewu kita akan disuguhkan dengan panorama perbukitan menoreh yang masih sangat asri dan vegetasi disana masih cukup lebat. Pada waktu itu sangat sedikit pengunjung yang datang berkunjung di tempat ini meskipun hari itu adalah hari Minggu. Suara kumbang atau serangga hutan yang lain seakan saling bersahutan, satu dengan yang lainnya dan menjadi pengiring perjalanan kita melewati hijaunya kawasan air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo. 

Lokasi air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo yang masih tersembunyi


Tidak sampai 15 menit melangkah saya sudah sampai di penghujung jalan. Dari atas bukit kecil terdapat beberapa gazebo yang telah disediakan oleh pengelola bagi pengunjung yang hendak beristirahat. Dari arah gazebo ini kami sudah bisa mendengar suara gemericik air dari arah bawah pertanda jarak air terjun yang sudah dekat dengan kita. Kami menyusuri jalan setapak menuju sungai yang berada di bawah gazebo dan benar saja, kami sudah bisa melihat air terjun yang dimaksud yakni air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo. 


Lokasi air terjun Grojogan Sewu terletak di tengah-tengah area pepohonan dan sulit terlihat apabila kita berada di bagian atas bukit. Sehingga apabila kita ingin melihat keindahan air terjun ini kita harus turun menyusuri tepian aliran sungai dan melewati jalanan yang terbuat dari tatanan batu di sekelilingnya. Berbeda dengan air terjun Grojogan Sewu atau biasa menyebutnya sebagai Tawangmangu yang berada di Karanganyar Jawa Tengah. Air terjun Gerjogan Sewu Kulonprogo memiliki ketinggian sekitar 7-10 meteran, jauh dibandingkan dengan ketinggian air terjun Grojogan Sewu Karanganayar yang memiliki ketinggian puluhan atau mungkin ratusan meter. Meskipun demikian air terjun ini tidak kalah menarik terlebih bagi saya yang tidak suka dengan tempat wisata yang terlalu ramai, lokasi ini sangat cocok bagi kita untuk menepi menenangkan pikiran kita diantara alam sekitar.


Di lokasi air Terjun Grojogan Sewu Kulonprogo atau lebih tepatnya di bagian tepi tempat jatuhnya air atau grojogan terdapat sebuah gubuk yang bisa kita manfaatkan untuk beristirahat. Kita bisa menyusuri jalan batu di tepi air terjun untuk bisa sampai gubuk tersebut. Namun saya lebih memilih menyusuri aliran sungai dan merasakan derasnya arus di sungai tersebut sambil mengabadikan beberapa gambar yang bisa saya ambil di sepanjang aliran sungai di bagian bawah air terjun. Pada saat saya kesana warna air di lokasi itu berwarna kecoklatan. Hal tersebut dimungkinkan karena adanya endapan lumpur yang terbawa aliran sungai karena hujan yang mengguyur wilayah tersebut beberapa waktu ini. 

Keindahan air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo

Air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo memang masih sangat alami. Beberapa sarana prasarana di tempat ini dibuat dari bahan alami dan bukan merupakan bahan permanen seperti berbahan semen. Namun justru hal tersebut membuat daya tarik tersendiri bagi saya yang suka akan tempat yang masih alami serta jauh dari keramaian. Air yang mengalir di sungai sepanjang aliran air terjun Grojogan Sewu pada saat kami kesana cukup deras. Sungai yang berada di tempat ini juga bebas dari sampah-sampah non organik. Agaknya masyarakat yang tinggal di kawasan ini sudah sadar akan kelestarian lingkungan sekitarnya.


Setelah selesai menyusuri air terjun, sayapun menyempatkan diri untuk berhenti sejenak di tepi tempat jatuhnya air terjun. Dari atas sini nampak aliran sungai yang berasal dari air terjun membelah alam, membasahi daerah di sekitarnya dan menjadikan daerah di sepanjang aliran air menjadi daerah yang subur dan dipenuhi pepohonan yang lebat dan berukuran besar. Di bagian bawah tempat jatuhnya air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo terdapat sebuah bongkahan batu berukuran cukup besar dan bisa dijadikan sebagai tempat bagi kita untuk berfoto dengan latar belakang air terjun Grojogan Sewu.

Walaupun lokasi air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo cukup jauh dari pemukiman warga dan sarana prasarana di tempat ini sangat sederhana, namun fasilitas di tempat ini cukup lengkap. Fasilitas yang ada di tempat ini diantaranya adalah : Beberapa gazebo sebagai tempat beristirahat, toilet, mushola dan beberapa tempat sampah yang tersedia di beberapa sudut. Diharapkan dengan adanya tempat sampah tersebut pengunjung tidak membuang sampah sembarangan agar tempat ini dapat terjaga kelestariannya.




Jalan ke air terjun Grojogan Sewu menurut saya lebih baik dibiarkan seperti itu hanya saja mungkin perlu ditambah lagi penghalang dari kayu agar tidak meninggalkan kesan alami mengingat beberapa penghalang di tempat ini sudah rusak dimakan usia. Oya bagi kamu yang mau berkunjung di tempat ini lebih disarankan memakai sandal dengan grip tebal seperti sandal gunung karena beberapa tempat sangat licin dan jangan lupa untuk membawa baju ganti karena kamu mungkin akan tergoda untuk berbasah-basah ria merasakan kesegaran air di air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo :)

" Bagaimana tertarik mengunjungi air terjun Grojogan Sewu Kulonprogo ? "

Saturday, 28 October 2017

jalan-jalan ke kebun teh kemuning karanganyar, menikmati hijaunya kebun teh di kaki gunung lawu

Kebun teh Kemuning Karanganyar. Sebenarnya pengalaman mengunjungi kawasan kebun teh kemuning yang terletak di lereng gunung Lawu merupakan pengalaman saya di tahun 2015 lalu. Namun barulah saya tulis di tahun 2017 ini, mengingat tahun-tahun sebelumnya saya belum memiliki blog dan hanya sebatas silent rider saja. Kini melalui blog ini, saya ceritakan pengalaman saya mengunjungi beberapa tempat wisata yang sudah pernah saya singgahi....termasuk kebun teh Kemuning yang menjadi salah satu destinasi wisata di Kabupaten Karanganyar.  

kebun teh kemuning karanganyar


Kebun Teh kemuning Karanganyar, memang wisata alam ini tidak begitu sepopuler wisata alam lainnya. Bagi saya pribadi, saya hanya mengenal air terjun Tawangmangu, candi Sukuh, candi Cetho serta Telaga Sarangan. Nah karena ada rekan saya yang mengajak mengunjungi kebun teh kemuning saya segera mengiyakan ajakan tersebut. Pengalaman mengunjungi kebun teh juga merupakan pengalaman pertama bagi saya, kapa lagi bisa menikmati hamparan tanaman teh yang tumbuh dengan subur di kaki gunung Lawu.

Rute menuju teh Kemuning dari Solo

Kebun teh Kemuning terletak di desa Kemuning, Kelurahan Ngargoyoso, Kawedanan Karangpandan, Kabupaten Karanganyar Propinsi Jawa Tengah. Untuk menuju ke kebun teh kemuning, rekan-rekan bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum.

Kendaraan umum ( bus ). Bila rekan-rekan dari kota Solo untuk sampai kebun teh Kemuning bisa memilih bus jurusan ke Tawangmangu. Dari terminal Tirtonadi lalu turun di terminal Karangpandan ( Jangan turun di Tawangmangu lho ya ). Dari Terminal Karangpandan lalu ganti angkutan dengan mini bus menju ke terminal Kemuning. Dari Terminal Karangpandan memerlukan waktu sekitar 40 menit untuk sampai ke kebun teh Kemuning. Oya untuk menuju kebun teh Kemuning maka rekan-rekan harus berjalan cukup jauh dan menanjak. Oleh karenanya saya menyarankan untuk naik ojek dibandingkan harus berjalan kaki.

Kendaraan Pribadi. Jika rekan-rekan menggunakan kendaraan pribadi, dari arah kota Solo ke timur ke arah Kabupaten Karanganyar tepatnya ke arah wisata alam air terjun Tawangmangu. Sampai di Terminal Karangpandan, masih lurus sampai menemukan pertigaan dengan papan petunjuk ke arah candi Sukuh & Cetho / kebun teh Kemuning serta ke arah Tramangmangu. Ambil ke arah candi Sukuh atau Candi Cetho melewati jalanan yang menanjak. Di perjalanan menuju ke kebun teh Kemuning rekan-rekan akan melewati sebuah pabrik teh dengan bangunannya yang berusia tua dan akan melewati rumah teh Ndoro Donker yang cukup terkenal.

jalan yang harus di lalui untuk sampai ke kebun teh Kemuning
jalan yang harus di lalui untuk sampai ke kebun teh Kemuning


Setelah sekitar 2 jam melakukan perjalanan menggunakan kendaraan roda dua, tibalah kami di kawasan perkebunan teh Kemuning. Namun sampai di perkebunan teh, kami kesulitan mencari tempat untuk memarkirkan kendaraan kami. Di perjalanan kami menemukan beberapa orang yang berusia lanjut, termasuk simbok-simbok sedang mengangkut teh serta kayu bakar. Antara kasihan dengan bangga dengan mereka, kasihan mengingat usia mereka yang tidak cukup muda untuk melakukan pekerjaan dengan beban yang cukup berat serta bangga karena di usia lanjut mereka masih semangat bekerja. Karena belum mengetahui tempat parkir maka kamipun mengikuti jalanan yang semakin menanjak. Di ujung jalan tepatnya di belakang bukit, kami tidak juga menemukan tempat parkir, akhirnya kami memutar arah dan menemukan pertigaan dengan jalanan tanah ke sisi kanan. Kamipun mengikuti jalan tersebut, benar saja jalanan ini merupakan tempat bagi wisatawan atau pengunjung untuk memarkirkan kendaraan mereka. Disini pula kami menemukan simbok-simbok yang membawa kayu bakar tadi , jalannya cepat bgt :D

bertemu simbok-simbok yang pencari kayu bakar

Panorama hijaunya kebun teh kemuning
Tidak perlu jauh-jauh melangkah untuk dapat mencapai bagian tengah dari kebun teh yakni 500 meter dari jalan utama tepatnya di sisi kiri jalan. Di area ini, sepanjang mata memandang hanya nampak warna hijau serta warna putih akibat kabut tipis yang menutupi sebagian wilayah, terutama pada puncak perbukitan teh. Fasilitas yang dapat dimanfaatkan di tempat ini hanyalah jalanan setapak di sisi sebelah kiri dan warung warung yang terbuat dari bambu dengan beberapa orang menjajakan makanan kecil serta membuka jasa parkir di dekatnya. Jalanan yang sangat sempit akan menyulitkan kendaraan roda empat yang lewat secara berpapasan. Selain itu tidak ada tempat parkir yang memadai di area ini sehingga beberapa pengunjung sengaja memarkirkan kendaraan yang cukup mengganggu pengunjung lainnya yakni di tepi jalan yang sempit.

jalannya ke kebun teh ya seperti ini :D 


Tibalah kami berkesempatan menyusuri kebun teh kemuning Karanganyar yang telah berusia puluhan tahun ini. Tidak perlu membayar tiket untuk masuk di kawasan ini, pengunjung boleh saja keluar masuk kebun teh. Meskipun demikian menjadi kewajiban bagi kita untuk menjaga kelestariannya dengan tidak merusak tanaman teh. Untuk dapat menuju ke bagian tengah dari kebun teh, atau bagian puncak bukit, maka kita dapat melalui jalanan kecil yang telah dibuat oleh pengelola perkebunan. Jalanan disini digunakan terutama bagi pemetik teh untuk mengangkut hasil teh yang mereka petik guna dikumpulkan serta diangkut ke tempat pengolahan teh.   

kebun teh kemuning karanganyar
dari atas kebun teh kita bisa melihat desa-desa di kaki gunung Lawu


Melihat puncak bukit dari kebun teh, mengingatkan saya pada kartun Telletubies yang sempat populer di tahun 2000an. Puncak perbukitan teh nampak hijau berbentuk menjulang dengan tanaman teh yang memiliki tinggi yang sama. Namun sayang pada saat saya berkunjung di tempat ini, tidak ada kegiatan memetik teh yang dilakukan oleh warga sekitar. Padahal saya sangat ingin sekali melihat secara langsung bagaimana cara pemetik teh, memilih dan memilah teh terbaik yang konon hanya terdiri dari 3 tangkai yang terletak di pucuknya ini. Di puncak bukit teh, kita dapat melihat kawasan di sekitar perkebunan teh yakni di bagian lereng gunung Lawu yang menghadap ke sisi barat yakni sisi yang mengarah ke Kabupaten Karanganyar dan Kota Solo. Disini pula kita dapat melihat jalanan yang berkelok yang sudah kita lewati untuk dapat mencapai kebun teh Kemuning Karanganyar.

Sejarah kebun teh Kemuning

Kebun teh kemuning mempunyai sejarah yang cukup panjang, kebun teh yang terletak diantara candi Sukuh dan candi  Cetho ini tercatat sudah ada sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda yakni sejak tahun 1925 dan didirikan oleh Johan dan Van Mendeer Voort, keduanya berasal dari negara Belanda. Kebun teh Kemuning yang memiliki total area 1.051 Ha ini pernah dikuasai Jepang yakni pada tahun 1942-1945, setelah Indonesia merdeka pengelolaan kebun teh diambil alih oleh Kadipaten Mangkunegaran. Selama perjalanannya, pengelolaan kebun Teh kemuning mengalami beberapa pergantian, pengelolaan kebun teh kemuning pernah dilakukan oleh Pemerintah Militer  Indonesia, selanjutnya diganti oleh Koperasi Perusahaan Perkebunan Klemuning, KODAM Diponegoro  dan akhirnya saat ini kebun teh Kemuning  dikelola leh PT. Sumber Abadi Tirta Sentosa.

kebun teh kemuning karanganyar
hamparan teh yang seakan tiada ujung


Para pengunjung yang datang di area perkebunan teh kemuning didomiasi oleh kaum muda ( baca : ABG ), mereka asik berfoto selfie diantara rimbunnya tanaman teh yang membentang luas seakan tiada ujung. Meskipun matahari bersinar tepat diatas kepala kita namun seakan tidak membuat badan kita menjadi panas atau berkeringat, maklum kawasan kebun teh ini terletak di atas ketinggian 1.000 diatas permukaan air laut, 700 meter lebih rendah dibandingkan dengan gunung Andong :D 

kebun teh kemuning karanganyar,
menemukan adegan syur dibalik tanaman teh


Kebun teh kemuning memang menawarkan pesona yang menawan, selain dapat melihat hamparan teh kita dapat melihat desa-desa sekitarnya tepatnya di lereng gunung Lawu, wisata kebun teh kemuning selain cocok dikunjungi oleh kaum muda juga dapat dikunjungi oleh keluarga sebagai destinasi wisata, tempat menghabiskan waktu di akhir pekan. Oya bagi rekan-rekan yang berkunjung di kawasan ini tepatnya di musim penghujan jangan lupa untuk mengenakan sepatu atau setidaknya mengenakan kaus kaki, pasalnya saya menemukan beberapa pacet di daun bagian bawah dari tanaman teh. Setelah selesai mengunjungi kebun teh kemuning kamipunb tidak langsung balik ke Solo melainkan mencari tempat wisata lainnya masih di Kabupaten Karanganyar, yakni candi Cetho dan Air terjun Jumog. 

Sekedar tips bagi anda yang ingin mengunjungi kebun teh kemuning :

  1. Pastikan kendaraan anda berada di kondisi yang prima, mengingat area kebun teh Kemuning berada di atas ketinggian 1000 meter di atas permukaan air laut, jalanan yang dilalui cukup menanjak dan banyak yang berlubang.
  2. Bila mengunjungi kawasan ini di musim penghujan, pakailah sepatu atau alas kaki yang bisa menutup kaki anda, pasalnya banyak pacet di tempat ini dan pengunjung sangat beresiko terkena gigitan pacet tersebut apabila tidak menggunakan alas kaki yang tertutup.
  3. Bawalah penutup kepala, di tempat ini sangat minim tempat untuk berteduh sehingga sebaiknya anda membawa dan menggunakan penutup kepala. 
Itulah pengalaman saya mengunjungi kebun teh Kemuning Karanganyar, semoga bisa menjadi referensi bagi anda yang ingin mengunjungi tempat ini. 

Wednesday, 25 October 2017

cerita pagi di spot riyadi prambanan Yogyakarta

Spot Riyadi Prambanan Yogyakarta. Bagi buruh laju seperti saya, pagi hari sepulang dari dinas jaga malam adalah waktu yang paling ideal untuk menikmati suasana pagi di pinggiran Kota Yogyakarta. Kota Yogyakarta yang kini semakin hari semakin macet seakan mulai meninggalkan kesannya sebagai kota yang berhati Nyaman. Kemacetan kota ini bertambah dengan banyaknya bermunculan hotel-hotel yang dibangun tinggi menjulang di pinggir jalan, hingga mengakibatkan meningkatnya volume kendaraan keluar masuk hotel. Akibatnya, kemacetan kendaraan pun terjadi di beberapa titik sepanjang jalan Kota dan jalan Yogya-Solo.

 spot riyadi prambanan
Jempatan Cinta di Spot Riyadi


Perjalanan pulang dengan melalui jalanan yang bebas dari macet mugkin bisa saya rasakan beberapa tahun silam. Kini untuk bisa sampai ke rumah, bagi saya adalah suatu perjuangan tersendiri. Perjuangan dimana saya harus beradu dengan kotornya udara karena polusi serta ditambah lagi dengan bisingnya suara mesin dan klakson kendaraan. Untuk bisa menikmati suasana Yogyakarta yang tenang dan damai rasa-rasanya cukup mustahil. Hal itu membuat saya berpikir adakah sebuah tempat yang sepi di pinggiran kota, tempat dimana kita bisa melihat Yogyakarta dari sisi lain dengan suasana pedesaan dan tentunya jauh dari polusi serta kebisingan suara kendaraan. Perjalanan saya menuntun ke sebuah tempat yang bernama Spot Riyadi yang berada di Desa Dawangsari, Kecamatan Prambanan Yogyakarta.

di spot riyadi prambanan
 Spot Riyadi Kecamatan Prambanan

Sebelumnya, saya tidak mengetahui adanya tempat yang bernama Spot Riyadi, sampai seorang rekan saya mengapload sebuah gambar tentang Candi Sojiwan dengan latar belakang Masjid Al-Muttaqun terlihat dari atas ketinggian. Pikir saya mungkin ada sebuah spot foto di sisi selatan Candi Sojiwan, Spot bagi kita bisa menikmati view daerah Prambanan dan sekitarnya dari atas ketinggian. Perjalanan saya dimulai dari Kota Yogyakarta, menuju ke arah timur yakni ke arah Klaten dengan melewati jalan Yogya-Solo. Tepat di gapura yang menjadi batas antara Propinsi Yogyakarta dan Jawa Tengah saya berbelok ke Selatan menyusuri jalan pedesaan, rute yang sama untuk menuju ke Candi Barong.

Rute menuju Spot Riyadi
Rute menuju Spot Riyadi yang masih sangat sepi

Rute untuk menuju ke Spot Riyadi adalah melewati bagian barat Desa Kebondalem Kidul. Setelah melewati portal rel kereta api ikuti saja jalan lurus tersebut hingga menemukan jalan yang menanjak ke arah kiri yakni melewati depan SDN Bokoharjo. Dari sini Spot Riyadi masih berjarak kurang lebih 2 km ke arah tenggara. Pagi itu suasana Desa Kebondalem sangatlah sepi, yang terlihat hanyalah beberapa orang yang sedang lari pagi serta beberapa petani yang sedang sibuk menggarap sawah mereka diantara tanah yang beberapa sudah menjadi daerah pemukiman.

Indah to kalo kita hidup bisa saling toleran 

Menyusuri jalan menanjak ke arah Spot Riyadi, saya memberhentikan kendaraan bermotor saya karena disini saya menemukan view yang cukup bagus. Di jalan yang menanjak ini, kita akan menemukan pemandangan yang menurut saya sangat "ndeso". Terlihat puncak dari candi Prambanan dan Candi Sojiwan menyembul diantara daerah sekitarnya yang beberapa masih tertutup oleh kabut pagi. Tidak lupa Masjid Al-Muttaqun tampak berdiri sangat kecil dengan kubahnya berwarna keemasan.
Perjuangan sibu-ibu, naik turun perbukitan, mencari nafkah

Pagi itu dalam perjalanan ke Spot Riyadi, saya bertemu rombongan ibu-ibu yang terlihat berjalan kaki dari arah bawah naik ke bagian atas perbukitan dengan memanggul bakul ( Jawa : Tenggok ) berisi bahan makanan. Saya menyempatkan diri untuk menyapa mereka dan berbincang-bincang sebentar sekedar ingin mengetahui beliau dari mana dan ingin kemana. Ternyata ibu-ibu tersebut adalah petani yang berasal dari daerah Sendangsriningsih. Mereka menjual beberapa hasil bumi di pasar Prambanan. Mereka rela naik turun dan melewati beberapa bukit untuk ke pasar Prambanan dibandingkan melewati jalan yang datar karena dengan melewati bukit, mereka dapat menyingkat waktu perjalanan. Semoga selalu diberi kesehatan dan rejeki yang cukup ya Ibu-Ibu tangguh  !!!!

Tidak mau berlama-lama, sayapun memacu kendaraan saya menyusuri perbukitan di selatan Candi Prambanan. Bagi rekan-rekan yang belum pernah ke tempat ini, dijamin tidak akan terlalu kesulitan untuk bisa mencapainya, lantaran sudah ada petunjuk jalan yang jelas serta apabila rekan-rekan bertanya, masyarakat di daerah sini sangat ramah-ramah.

Kalo tidak ada yang menunggu, kira-kira bayar ga ya..... 


Tidak sampai 5 menit, sampailah saya ke Spot Riyadi. Hal yang pertama kali saya temui setelah saya memarkirkan kendaraan saya adalah sapi. Iya serius sapi yang biasa buat kurban itu :D. Loh kog ada sapinya ?? Jadi begini, Spot Riyadi memang tempat yang sering digunakan terutama bagi pecinta fotografi untuk berburu lanscape daerah timur Yogyakarta dan lokasinya tidak jauh dari rumah penduduk. Jadi jangan heran apabila rekan-rekan ke tempat ini menemukan beberapa hewan ternak, karena memang lokasinya tidak jauh dari kandang ternak.

View dari Spot Riyadi........


Pagi itu suasana Spot Riyadi sangatlah sepi. Saya hanya menemukan seorang berasal dari Kota Solo yang sudah semalaman menginap di tempat itu. Tujuannya satu, ingin memotret matahari terbit dan memotret pemandangan gunung Merapi yang konon, akan sangat terlihat di tempat ini. Namun sayang, pagi itu daerah sekitar Spot Riyadi tertutup oleh kabut, sehingga megahnya gunung Merapi tidak nampak jelas. Yang terlihat hanyalah hamparan sawah yang luas, diantara gedung-gedung yang sedikit demi sedikit mulai banyak didirikan terutama di daerah timur Candi Prambanan.

Candi Prambanan dan Candi Sojiwan kelihatan kecil

Di Spot Riyadi, kita juga bisa melihat dua peninggalan sejarah leluhur kita, yakni Candi Prambanan dan Candi Sojiwan meskipun nampak sangat kecil. Ya mungkin saja, apabila kita datang di waktu yang tepat, pada waktu cuaca yang cerah, kita bisa mengambil gambar kedua Candi ini dengan gunung Merapi di sisi utara sebagai backgroundnnya. Menurut penuturan salah satu warga yang saya temui, Spot Riyadi akan ramai terutama sore hari, di akhir pekan. Banyak kaum muda yang menghabiskan akhir pekan di tempat ini sekedar untuk melihat sunrise ataupun camping di sepanjang area. Memang tidak ada area khusus bagi kita untuk bisa mendirikan tenda atau dome. Oleh karenanya bagi yang ingin camping di tempat ini sebaiknya berhati-hati karena di sisi utara Spot ini adalah jurang serta tidak ada penerangan yang cukup memadai. Di tempat ini pula, terdapat tempat rental alat-alat camping, rekan-rekan tidak perlu bersusah payah membawa dome dari rumah cukupah menyewa peralatan yang dibutuhkan dengan harga yang cukup terjangkau.

Spot Riyadi yang terletak di Dusun Dawangsari, Desa. Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, bisa menjadi tempat murah meriah bagi rekan-rekan untuk menikmati suasana lain dari hiruk pikuknya kota Yogyakarta. Tidak sampai 30 menit dari pusat kota, kita akan bisa melihat keindahan lain Yogyakarta dari atas ketinggian. Kunjungilah Spot ini pada malam hari. Bila rekan-rekan beruntung, rekan-rekan bisa melihat kemegahan Candi Prambanan dengan kelap-kelip lampu LED yang sudah terpasang di sekitar pelatarannya. Bagaimana ?? tertarik mengunjungi Spot Riyadi ??    

Monday, 12 June 2017

sore hari di waduk cengklik Boyolali

Waduk Cengklik Solo-Boyolali. Ingin menikmati suasana sunset yang lain di kawasan perbatasan kota Solo dengan Kabupaten Boyolali?, waduk Cengklik tempatnya. Waduk Cengklik terletak di desa Margorejo, Kecamatan Ngemplak Kabupaten Boyolali. Waduk yang terkenal cukup angker ini menjadi tempat wisata yang bisa anda kunjungi apabila anda berkunjung di kota Solo ( letaknya kurang lebih 3 km dari Bandara Adi Sumarmo ) untuk menghabiskan waktu di sore hari dan berburu sunset sambil melihat para pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
perahu milik nelayan yang berada di tepi waduk yang terdapat banyak enceng gondok


Kali ini saya berkesempatan berkunjung di salah satu obyek wisata buatan yakni obyek wisata waduk yang terletak di Kabupaten Boyolali tidak jauh dari Bandara Adi Sumarmo Solo. Karena letaknya yang tidak begitu jauh dari kota Solo tidak jarang orang beranggapan bahwa waduk Cengklik masih masuk dalam administratif kota Solo, hal tersebut tidak benar. Secara administratif waduk Cengklik berada pada wilayah administratif Kabupaten Boyolali. Waduk yang sudah dibangun sejak jaman pemerintahan kolonial Belanda ini kini menjadi tempat yang cukup menarik untuk berhunting foto terutama bagi pecinta fotografi di kota Solo dan sekitarnya.




Pengalaman mengunjungi Waduk Cengklik merupakan pengalaman yang pertama bagi saya. Karena sering ke kota Solo, maka saya sudah cukup hafal tempat-tempat wisata yang patut untuk dikunjungi dan tempat wisata yang cocok untuk menghabiskan waktu di sore hari. Seringkali saya mengunjungi taman wisata Balekambang yang letaknya di dekat terminal Tirtonadi, namun karena sudah terlalu sering kesana, maka saya mencari spot menarik lainnya di pinggiran kota Solo, yakni di waduk Cengklik 

Bagi yang suka akan kegiatan memancing terutama di kota Solo, tentu saja sudah tidak asing lagi dengan Waduk Cengklik. Waduk Cengklik menjadi salah satu tempat memancing favorit dari sekian tempat memancing di kawasan Solo dan sekitarnya. Waduk yang dibangun tahun 1926-1928 oleh Pura Mangkunegara ini memiliki area keramba yang cukup luas serta terdapat jasa penyedia perahu yang dapat disewa baik itu oleh wisatawan ataupun para pemancing yang ingin memancing sampai di tengah danau.       

Rute menuju waduk Cengklik

Waduk Cengklik dapat dengan mudah kita capai. Lokasi waduk Cengklik cukup strategis yakni berlokasi di dekat Bandara Adi Sumarmo dan embarkasi haji. Jika rekan-rekan datang dari arah Yogya atau Klaten, setelah sampai Kartasura, perhatikan papan penunjuk arah di pertigaan yang mengarah ke bandara Adi Sumarmo. Ambil ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan perempatan pada jembatan. Sampai di perempatan ambil arah ke kiri ikuti jalan tersebut sampai menemukan waduk Cengklik. Lokasi waduk Cengklik masih 3 km lagi dari perempatan jembatan. 

Keindahan waduk cengklik  

Setelah menyusuri jalanan yang berlubang akhirnya kami sampai di waduk Cengklik. Jika anda dari arah selatan maka pintu masuk kawasan waduk Cengklik ini mungkin tidak terlihat, mengingat area di sekitarnya cukup “kumuh” serta papan tempat wisata yang ada tidak begitu jelas karena telah dimakan usia. Agaknya pemerintah sekitar tidak terlalu memperhatikan keberadaan waduk ini dan tidak mencoba menggali potensi wisata yang ada. Setelah membayar biaya masuk dengan harga Rp.3000; ( biaya retribusi diminta oleh seorang yang tidak mengenakan seragam resmi ) kami diperbolehkan masuk di kawasan waduk dengan tetap membawa motor kami. Sebelumnya saya menanyakan adakah karcis sebagai bukti biaya masuk kawasan waduk Cengklik ? pemuda tersebut mengatakan bahwa tidak ada karcis dan dana disetorkan untuk uang khas muda-mudi sekitar. Memasuki area waduk Cengklik terlihat sejumlah warga terutama anak-anak muda terlihat sedang bersenda gurau di tepian waduk serta beberapa diantaranya sedang mengabadikan moment yang ada, tidak lain adalah mencoba memotret matahari terbenam dan memotret aktifitas pencari ikan yang banyak dijumpai di tempat ini.

waduk cengklik boyolali
di sudut waduk cengklik


Pada saat saya berkunjung ke tempat ini, air yang ada mengalami penyusutan. Hal ini terlihat dengan mengeringnya tepian waduk sehingga di beberapa sudut dapat digunakan oleh para pencari ikan sebagai tempat yang kering untuk memancing dan menebarkan jala mereka. Selain itu di waduk Cengklik banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok. Tanaman ini hampir dapat dijumpai di sepanjang tepian dari waduk tepatnya di sisi selatan dan sisi barat.  Mungkin menjadi masalah klasik bagi waduk yang berada di Indonesia bahwasanya saat ini waduk banyak ditumbuhi tanaman enceng gondok yang menjadi salah satu penyebab pendangkalan atau sedimentasi.

waduk cengklik boyolali
nelayan yang sedang menangkap ikan


Perhatian saya tertuju pada salah satu nelayan yang berada di tengah-tengah waduk. Meskipun memiliki ruang gerak yang cukup sempit ( karena terhalang oleh enceng gondok yang banyak tumbuh ) nelayan tersebut tetap mencoba mencari ikan dengan menebar jalanya, mencari tempat yang kemungkinan terdapat banyak ikannya. Saya hanya menemukan seorang nelayan yang menggunakan perahu sampai di tengah waduk, selebihnya hanya pencari ikan yang memancing di tepian waduk. Saya menghampiri seorang bapak yang sedang memancing dan berkesempatan berbincang-bincang dengan beliau, beliau menuturkan bahwa saat ini ikan di waduk ini semakin lama semakin sedikit, hal tersebut tejadi seiring dengan penyusutan jumlah air di waduk Cengklik ini. Bila jumlah air menurun otomatis jumlah ikan juga semakin sedikit. Saya juga menanyakan mengapa beliau tidak memancing ikan ke bagian tengah saja menggunakan perahu.

Kalau pakai perahu akan jauh lebih susah mas, soale banyak enceng gondoknya. Pernah sekali menggunakan perahu, banyak enceng gondok yang menabrak kebawa aliran air, malah susah menepikan perahunya

Itulah penuturan salah satu pencari ikan yang berhasil saya wawancarai di tempat ini. Beliau juga menuturkan bahwa ikan yang banyak didapat di tempat ini adalah ikan dengan jenis patin dan nila. Selebihnya saya menanyakan untuk keperluan apa beliau memancing ikan. Jauh dari perkiraan saya, bahwasanya ikan hasil tangkapan tersebut akan dijadikan lauk pauk, ternyata ikan yang di dapatkan digunakan untuk keperluan pakan ikan lele yang dia pelihara di kolam samping rumahnya :D 

waduk cengklik boyolali
seorang bapak yang sedang memancing di tepi waduk


Berada di kawasan waduk Cengklik selain dapat melihat aktifitas pencari ikan kita juga dapat melihat lalu lalang dan padatnya penerbangan di bandara Adi sumarmo Solo. Pesawat terbang yang melintas tepat di atas kita, maklum saja area waduk Cengklik berada di dekat dengan bandara, sehingga tidak sampai dalam hitungan jam sudah dipastikan dapat terlihat terbang rendang baik itu take off maupun landing. Selain di area waduk Cengklik, tempat memancing lainnya adalah sungai di sisi selatan dari waduk. Di sungai yang letaknya di tepian persawahan milik warga ini juga banyak dijumpai para pemancing ikan. Para pemancing dengan sabarnya menunggu umpan yang dipasangnya disambar ikan yang menjadi buruan mereka. Disini pula kita dapat melihat aktifitas lain yakni para petani padi yang melakukan aktifitas pertanian mengolah tanah di tengah-tengah kesibukan aktifitas perkotaan.    

Tempat ideal untuk hunting foto

Bagi yang suka akan kegiatan fotografi, waduk cengklik merupakan tempat yang ideal untuk hunting foto. Ada banyak spot menarik yang dapat diambil di waduk Cengklik. Selain aktifitas nelayan yang sedang menangkap ikan, aktifitas budidaya ikan yang ada di sisi selatan dari waduk juga tidak kalah menarik. Disana kita dapat melihat budidaya ikan  yang dilakukan menggunakan keramba yang membentang dari sisi barat sampai sisi sebelah timur dari waduk. Waktu terbaik untuk mengunjungi waduk Cengklik adalah ketika sore hari, dimana kita bisa menyaksikan matahari terbenam serta melihat cahaya orange yang perlahan-lahan mulai memudar.



Moment ini yang paling ditunggu-tunggu oleh para pemburu foto untuk mendapatkan gambar yang unik. Oya waduk Cengklik juga terkenal dikarenakan tempat ini sering digunakan sebagai tempat untuk mengambil foto serta banyak yang mengunggahnya ke media sosial. Alhasil waduk yang dahulu hanya digunakan hanya sebagai tempat untuk menampung air guna keperluan irigasi ini kini digunakan untuk wisata masyarakat sekitarnya, khususnya di kota Boyolali dan Solo.

waduk cengklik boyolali
begitu menghayati sampai-sampai masuk ke dalam rimbunan tumbuhan enceng gondok


Sore itu suasana waduk Cengkik cukup ramai dikunjungi oleh masyarakat untuk menghabiskan sore sambil bersenda gurau. Saya sengaja turun ke bagian tepi waduk yang mengering guna mengabadikan beberapa foto enceng gondok yang banyak tumbuh dan hampir menutupi bagian dari tepian waduk tersebut. Dibalik rimbunnya enceng gondok tiba-tiba muncul seseorang dengan membawa peralatan pancing dan melangkah menyusuri waduk,  menjauh ke arah sisi barat. Ternyata tanpa saya sadari di bagian bawah tempat saya duduk ada bapak-bapak yang sedang memancing ikan. Entah bagaimana posisi bapak tersebut ketika memancing karena saya tidak menyadarinya. Keberadaannya seakan berkamuflase dengan tanaman sekitarnya.

waduk cengklik boyolali
yang mengantar saya tidak ketinggalan mau ikut difoto 


Setelah kurang lebih 2 jam menghabiskan waktu di tempat ini, dan setelah senja tiba, kami memutuskan untuk pulang ke Solo. Dari pengalaman saya mengunjungi waduk Cengklik, saya sangat menyayangkan, waduk Cengklik seakan tidak terawat dan pemerintah sekitar tidak memberikan perhatian pada waduk yang saat ini mengalami masalah pendangkalan. Bila dikelola secara lebih serius, waduk Cengklik mungkin bisa menjadi wisata favorit di Kabupaten Boyolali. Selain menjadi tempat wisata yang menarik bagi masyarakat tentunya juga akan menambah pendapatan daerah dari hasil penjualan tiket masuk. Ah.. saya hanya bisa berandai-andai........