Showing posts with label seni dan budaya. Show all posts
Showing posts with label seni dan budaya. Show all posts

Saturday, 28 October 2017

Museum ullen Sentalu Kaliurang Yogyakarta, tempat mengenal sejarah Kraton dan budaya Jawa

Sebenarnya tidaklah susah menemukan alamat Museum Ullen sentalu. Alamat serta rute menuju ke museum yang memiliki jam buka dari jam 09:00-16:00 ini termasuk mudah untuk dicari. Hal tersebut dikarenakan jalur menuju Museum Ullen sentalu satu jalur dengan wisata alam Kaliurang Yogyakarta. Bagi yang belum mengetahui museum Ullen sentalu, museum ullen sentalu adalah museum yang berisikan tentang kebudayaan Jawa. Museum ullen sentalu beralamat di jalan Boyong KM 25, Pakem, Kaliurang, Sleman, Yogyakarta. Museum ini menyimpan benda-benda hasil budaya Jawa serta peninggalan-peninggalan kerajaan dinasti dari kerajaan Mataram islam yang terbagi menjadi 4 yakni : Kasunanan Surakarta, Kasultanan Yogyakarta, Kadipaten Pakualaman serta Praja Mangkunegaran. Untuk masuk ke dalam museum ullen sentalu anda harus membayar harga tiket sebesar Rp.30.000; untuk dewasa dan Rp.15.000; untuk anak-anak serta Rp.50.000; untuk turis mancanegara.


Museum ullen Sentalu Kaliurang,Yogyakarta,
Salah satu sudut Museum Ullen Sentalu


Museum Ullen Sentalu saat ini memang menjadi salah satu pariwisata sejarah yang menarik dan layak anda kunjungi ketika berlibur di Yogyakarta. Harga tiket yang cukup terjangkau serta akses yang mudah menjadi alasan mengapa anda harus mengunjunginya ketika berlibur di Yogyakarta. Kali ini saya berkesempatan untuk mengunjungi museum Ullen Sentalu yang alamatnya sangat mudah kita temui. Akses untuk mengunjungi museum ini tidaklah sulit, hal itu tidak lain karena tempat ini lokasinya tidak jauh dari kawasan wisata kaliurang. Memang letak museum ini agak jauh dari keramaian, namun  hal inilah yang menjadi keistimewaan dari museum ini. Museum ullen sentalu menawarkan panorama asli pedesaan di kaki gunung Merapi.

Sejarah berdirinya museum ullen sentalu


Seribu enam ratus atau bahkan lebih dari dua ribu tahun. Selama itulah rentang waktu yang telah membentuk budaya Jawa yang eksis dan kita kenal hingga sekarang. Evolusinya melalui berbagai zaman : Mataram Kuno, Medang, Kediri, Singasari, Majapahit, Demak, Pajang, juga Mataram beserta empat cabang sempalannya, yakni Surakarta, Yogyakarta, Mangkunegaran, dan Pakualaman.

Hasil proses peradaban berusia panjang itu pun tak kurang jumlahnya yang bermutu sangat tinggi. Sebut saja dalam hal ini kitab kitab kuno yang berisikan mitologi, epos, sejarah, ketatanegaraan, pengetahuan dan petuah-petuah berfaedah, hingga ramalan : Bharatayudha, Negarakertagama, Pararaton, Babad Tanah Jawi, Serat Centhini, Serat Wedhatama,dan Serat Kalathida. Di samping itu ada pula sejumlah adikarya berupa bangunan bangunan berarsitektur megah serta kaya ornamen elok: Candi Borobudur, Percandian Prambanan, Candi Sewu, Candi Penataran, Pasareyan Raja-raja Mataram di Imogiri, juga Istana Air Taman Sari. Patut disyukuri bahwa banyak dari warisan budaya yang bersifat tangible (bendawi) tersebut sejauh ini terkonservasi dengan cukup baik.


Namun, selain warisan budaya yang bersifat tangible ada pula warisan budaya yang bersifat intangible. Warisan budaya intangible mencakup keseluruhan ekspresi, pengetahuan, representasi, praktek, dan ketrampilan. Datangnya era globalisasi yang tak terelakkan serta banjir budaya pop yang dibawanya mendatangkan ancaman bagi warisan budaya Jawa yang bersifat intangible. Menjadi pudar dan terabaikan adalah awalnya. Selanjutnya, jika tiada perhatian serta tindakan nyata, bukan tak mungkin itu akan memusnahkan warisan budaya intangible, membuatnya terlupakan sama sekali.

Keprihatinan atas hal semacam itu, berpadu dengan pemikiran bahwa kebanggaan dan martabat suatu bangsa, termasuk kebanggaan atas segenap hasil proses peradaban dan budayanya, tidaklah dapat dipisahkan dengan adanya kehendak kuat untuk menjaga kesinambungannya, lantas memantik inspirasi para pendiri Museum Ullen Sentalu. Mereka lantas bertekad untuk mampu menjelmakan warisan budaya intangible dalam wujud karya karya seni. Harapannya, itu akan mampu menjadi jendela peradaban seni dan budaya Jawa, sekaligus jembatan komunikasi bagi generasi masa kini.

Sejarah singkat, diambil dari : ullensentalu.com

Rute menuju Museum ullen sentalu 

Rute menuju Museum ullen sentalu
Dengan Kendaraan Pribadi
Melalui Jalan Kaliurang (30-45 menit): ikuti jalan utama ke arah utara sepanjang 18 km.Melalui Jalan Palagan Tentara Pelajar (25-35 menit): ikuti jalan utama ke arah utara sepanjang 10 km, belok kanan pada pertigaan Pulowatu dan ikuti jalan sepanjang 3 km, belok kiri di pertigaan Pasar Pakem, ikuti jalan utama sepanjang 6,5 km.

Dengan Kendaraan Umum (60-90 menit)
Gunakan Bus Trans Jogja rute 2B atau 3B dan turun di Shelter Ring Road Utara-Kentungan. Ganti dengan angkot rute Yogyakarta-Pakem dan turun di Pasar Pakem. Ganti dengan angkot rute Pakem-Kaliurang dan turun di Taman Kanak-Kanak Kaliurang. Berjalan ke arah Barat kurang lebih 300 meter (8 menit).




Harga tiket masuk museum ullen sentalu


Sampai di museum ullen sentalu saya agak kebingungan dalam mencari pintu masuk, menurut saya pribadi, museum ini tertutup dengan rindangnya pepohonan di sekitarnya, sehingga bagi pengunjung yang belum pernah ke tempat ini mungkin agak kebingungan dengan letak pintu masuk. Setelah bertanya pada petugas securiti yang berjaga di tempat parkir, saya diarahkan pada pintu masuk berupa tangga dengan hiasan patung besar sebagai penyambut tamu yang datang. Saat masuk kita akan diminta untuk membeli tiket masuk dengan harga : untuk domestik dewasa 30 ribu, anak-anak 15 ribu sedangkan turis asing 50 ribu, untuk anak-anak 30 ribu. Setelah membeli tiket, saya dianjurkan untuk menunggu sakitar 10 menit, menunggu guide yang akan memandu kami selama 50 menit mengitari museum yang memiliki luas total lebih dari 1 hektare ini.


Sebelum mengelilingi museum, guide akan menjelaskan beberapa peraturan yang harus anda taati selama di dalam museum. Aturan yang berlaku di museum Ullen sentalu adalah :
  1. Tidak boleh makan dan minum di dalam museum, 
  2. Tidak boleh menyentuh barang-barang yang ada di dalam museum
  3. Tidak boleh mengambil gambar selama berada di dalam museum. Peraturan yang terakhir ini yang paling berat, karena pada dasarnya saya suka mengambil gambar jika mengunjungi tempat-tempat yang dirasa menarik. Setelah menunggu sekitar 10 menit, saya yang tergabung dalam kelompok berisikan sekitar 10 orang dipandu oleh seorang guide untuk mengelilingi museum ini.

Ruangan pertama, masuk ke ruang gamelan


Kami didampingi seorang guide mengunjungi tempat yang dikelompokkan menjadi 4 ruangan, meskipun dikatakan 4 ruangan, namun pada kenyataannya 1 ruangan terdiri dari beberapa ruangan kecil yang berisikan baik itu foto maupun benda-benda peninggalan seperti baju ataupun benda lainnya yang berasal dari keluarga kerajaan. Tujuan kita yang pertama adalah ruangan 1. Setelah menelusuri lorong yang berdinding bebatuan dari batu gunung merapi, kami sampai di ruangan 1. Ruangan ini disebut dengan gua selo giri, berisikan benda-benda peninggalan 4 kerajaan, diantaranya adalah : gamelan kyai kukuh yang berfungsi untuk mengiringi pagelaran wayang, silsilah kerajaan Mataram Islam dari panembahan Senopati sampai sekarang, koleksi lukisan penari srimpi, tari golek menak dan tari topeng.

Yang menarik di ruangan ini adalah lukisan tari Srimpi yang ditarikan oleh Gusti Nurul pada tahun 1937 di Negara Belanda dengan iringan gamelan yang bisa terdengar sampai wilayah Solo. Mengapa bisa terdengar sampai Solo? Karena pada waktu itu acara yang diselenggarakan di Negara Belanda disiarkan langsung melalui gelombang radio di negara-negara yang masih berada dalam jajahannya, tidak terkecuali di wilayah Solo Indonesia. Selain itu terdapat pula lukisan tari golek menak hasil karya dari sultan Hamengku Buwono ke IX yang menceritakan tentang pertarungan 2 orang puteri bernama Dewi Rengganis dan Dewi Widaninggar. Selain lukisan-lukisan penari tersebut terdapat pula lukisan 3 dimensi yang bila kita amati dengan seksama, bagian mata dari lukisan tersebut akan mengikuti arah kemana kita melangkah.

Ruangan 2 bilik syair Putri Tineke


Memasuki ruangan selanjutnya yakni kampung lambang atau ruangan labirin. Kampung lambang sendiri terdiri dari beberapa ruangan salah satunya adalah bilik syair patah hati yang berisikan dengan koleksi Syair sejumlah 29 syair ditulis oleh Putri Tineke yang pada waktu itu mengalami patah hati dengan waktu cukup lama karena hubungannya dengan sang kekasih tidak mendapat restu dari ibundanya serta beberapa syair yang dituliskan oleh sahabat-sahabat putri Tineke yang berisikan tentang penghiburan-penghiburan untuk dirinya. Diceritakan putri Tineke tidak mendapatkan Restu dari Ibundanya karena Ibunya yang perfecsionis menginginkan putrinya mendapatkan seorang suami yang berkedudukan tinggi dan berasal dari keluarga kerajaan, sedangkan kekasih putri Tineke sendiri pada waktu itu adalah seorang pria biasa dan bukan dari keluarga kerajaan. Putri Tineke memilih untuk menikah dengan kekasih pujaannya meskipun harus keluar dari Istana. Akhir dari cerita itu Putri Tineke baru beroleh restu dari Ibundanya setelah 20 tahun hidup bersama suaminya. Semua syair di bilik patah hati ini ditulis menggunakan tulisan tangan dengan bahasa Belanda dan sudah diterjemahkana ke dalam bahasa Indonesia dan Jepang.

Ruangan 3 Ruangan dengan koleksi batik


Memasuki ruangan berikutnya yaitu ruangan Batik. Di ruangan ini kita dapat melihat beberapa contoh koleksi batik dari kedua kerajaan yaitu kasultanan Yogyakarta dan Kasunanan Surakarta. Pemandu dengan luwes menceritakan tentang sejarah batik serta motif batik yang berkembang saat ini diantaranya batik keraton dan batik dari pesisir.  Batik dari pesisir berwarna cenderung berwarna cerah seperti warna dan motif batik yang berasal dari Pekalongan sedangkan batik dari keraton berwarna lebih gelap sebagai contoh dari keraton Solo. Dijelaskan pula perbedaan pola yang mencolok antara batik yang berasal dari Yogyakarta dan batik yang berasal dari Solo. Untuk batik yang berasal dari keraton  kasunanan Solo mempunyai warna dasar yakni warna coklat dan memiliki motif yang lebih kecil, sedangkan batik dari keraton Kasultanan Yogyakarta memiliki warna dasar putih dengan ciri khas memiliki ornamen dengan gambar burung garuda atau lambang gurdo.

bale nitik rengganis
bale nitik rengganis



Setelah dirasa cukup capek mengelilingi museum ini, saya bersama dengan rombongan saya dipersilahkan untuk beristirahat di dalam suatu ruangan yang telah disediakan. Ruangan itu bernama Bale nitik rengganis. Di ruangan ini kami diperbolehkan untuk mengambil gambar dan mencicipi minuman jamu ratu mas  ( konon minuman ini dibuat oleh salah seorang keluarga keraton yang mempunyai khasiat menambah stamina serta awet muda ).


minuman jamu ratu mas
minuman jamu ratu mas

Minuman yang dihidangkan dalam gelas ukuran kecil ini mempunyai rasa manis dan hangat di tenggorokan bila anda meminumnya, cukuplah untuk sedikit membasahi tenggorokan selama mengelilingi setiap sudut museum. Setelah selesai beristirahat saya bersama rombongan melanjutkan kunjungan ke ruangan berikutnya ruangan 4.

Ruangan 4 ruang putri dambaan



Kami berjalan menyusuri jalanan mistar dengan hiasan arca-arca kuno di samping kiri kami yang berasal dari peninggalan beberapa kerajaan di tanah Jawa. Arca-arca tersebut ditemukan dalam beberapa kondisi, dan sebagian diantaranya mengalami beberapa kerusakan yang diakibatkan oleh iklim, bencana alam seperti gempa bumi, atau kerusakan yang diakibatkan oleh tangan manusia. Tidak beberapa jauh melangkah, sampailah kami di ruangan Putri dambaan. Ruangan yang memajang barang-barang dan lukisan koleksi dari  putri Nurul tersebut dinamakan sendiri oleh puteri Nurul. Alasan beliau menamakan ruangan puteri dambaan, karena beliau merasa dilahirkan sebagai seorang puteri dimana banyak laki-laki yang ingin meminangnya sebagai seorang isteri. Beberapa tokoh besar seperti Ir. Soekarno, Sultan Syahrir tercatat pernah ingin meminangnya, namun puteri Nurul menolaknya secara halus. Alasannya, karena puteri Nurul adalah seorang wanita modern yang menolak poligami. Akhirnya puteri Nurul menikah dengan seorang letnan kolonel dan hidup serta memiliki beberapa buah hati. Di ruangan yang secara pribadi diresmikan oleh puteri Nurul ini kita dapat melihat beberapa koleksi foto beliau yang cantik jelita sewaktu masih muda, beberapa foto tentang dirinya sedang mengendarai kuda yang diberikannya oleh ayahnya sebagai hadiah ulang tahun.


Di ruangan terakhir kami dibawa oleh pemandu ke ruangan dimana terdapat 2 patung penari besar dan saling berhadapan. Yang menarik di ruangan ini adalah lukisan penari bedoyo ketawang. Diceritakan tari bedoyo ketawang adalah salah satu tarian yang ditarikan oleh 9 orang gadis yang masih perawan dalam keadaan yang suci ( tidak sedang datang bulan ). Sebelum menarikan tarian tersebut para gadis harus berpuasa terlebih dahulu selama 1 bulan. Selama 9 orang tersebut menari dipercaya penari ke-10 akan datang, penari ke-10 tersebut tidak lain dari Nyi-Roro kidul yang akan merasuki salah satu diantara 9 penari.

Selain lukisan penari bedoyo ketawang, di ruangan terakhir ini juga menyimpan koleksi lukisan sultan Hamengku Buwono yang ke-IX dan sultan Hamengku Buwono ke-X. Terdapat pula foto pangeran Charles dan ratu Diana bersama dengan sultan Hamengku buwono ke-X dan ratu Hemas ketika menghadiri acara di karaton Yogyakarta pada tahun 1989.



Di penghujung perjalanan kami, kami diantarkan pada suatu area terbuka dengan latar sebuah relief yang dibuat sesuai dengan relief yang sesugguhnya yaitu relief yang berada di Candi Borobudur dengan skala yang lebih besar. Relief yang sengaja dibuat miring ke kiri ini merupakan suatu sindiriran akan realita terutama bagi kaum muda yang semakin hari semakin lupa akan jati diri bangsa Indonesia, sebuah bangsa yang besar dan kaya akan budaya.


Saya pribadi sangat senang bisa mengunjungi museum ini. Selain karena tempatnya yang sejuk dan asri, wisata ini menambah pengetahuan akan budaya bangsa Indonesia khususnya budaya Jawa. Semua koleksi di museum ini dijelaskan secara rinci oleh pemandu dan pemandu dengan sabar akan menjawab setiap pertanyaan dari pengunjung. Sesuai dengan singkatannya Ullen Sentalu ( Bahasa Jawa ) Ulating Blencong SEjatine Tataraning LUmaku yang bila diartikan dalam bahasa Indonesia : Nyala lampu blencong merupakan petunjuk manusia dalam melangkah dan meniti kehidupan. Diharapkan bagi pengunjung yang telah mengunjungi tempat ini, akan bertambah wawasannya, terutama tentang nilai-nilai luhur dari budaya yang ada dan dapat menjadi pelita bagi perjalanan kehidupan selanjutnya. 

Informasi tambahan


keterangan
informasi
Biaya parkir
Gratis
Biaya masuk
Domestik : Rp.30.000
Turis mancanegara : Rp.50.000;
Anak-anak : Rp.15.000;
Alamat      
Jalan Boyong KM 25 Kaliurang Barat, Sleman Yogyakarta
Telephone
( 0274 )895161 atau 895131
Email & website
info@ullensentalu.com & ullensentalu.com
Lama perjalanan dari Yogyakarta
1 jam
Transportasi umum
Transjogja rute 2B atau 3B dan angkutan ke arah pakem

Kesimpulannya :

Ullen Sentalu adalah sebuah museum modern, berada di kawasan wisata alam Kaliurang yang layak untuk anda kunjungi untuk menambah wawasan budaya, terutama budaya Jawa. Tidak salah bila salah satu sumber menyebutkan bahwa museum ini masuk ke dalam 10 museum terbaik di Indonesia. Bagi rekan-rekan yang kebetulan berlibur ke Yogyakarta, tidak ada salahnya untuk memasukkan list Museum Ullen Sentalu ke dalam daftar tempat yang harus dikunjungi. Salam,
     

Saturday, 7 October 2017

mengunjungi Candi Merak Karangnongko Klaten

Candi Merak Karangnongko Klaten. Berawal dari ajakan seorang rekan pada sebuah group wa Blogger Klaten, saya berkesempatan untuk mengunjungi Candi Merak awal bulan Januari lalu. Sebenarnya jarak tempat tinggal saya dengan Candi Merak tidak terlalu jauh. Berkisar antara 6-7 km dan masih satu Kecamatan dengan Candi Merak yakni di Kecamatan Karangnongko Kabupaten Klaten. Namun karena saya tiap hari kerja di Yogya dan sangat jarang sekali ada keperluan ke daerah Karangnongko, maka saya tidak terlalu mengetahui perkembangan pemugaran Candi Merak dan perkembangan Kecamatan Karangnongko saat ini. Terakhir saya mengunjungi Candi Merak tahun 2011 dan pada saat itu Candi Merak sudah selesai dalam tahap pemugaran untuk bangunan utamanya.

Candi Merak merupakan Candi berlatar belakang agama Hindu dan berlokasi di desa Merak, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. Lokasinya di tengah-tengah pemukiman warga sehingga sedikit sekali orang yang mengetahui keberadaan candi ini. 


Rute menuju candi Merak Karangnongko Klaten

Dari arah jalan Yogya-Solo, kita menuju ke pabrik gula Gondangwinangun. Pertigaan di timur pabrik Gula ambil jalan ke utara arah ke obyek wisata alam Deles Indah. Sampai di pertigaan Basin, ambil arah ke kanan sampai menemukan percabangan jalan ( bila ke kanan kita ke arah kota klaten ) kita ambil jalan yang ke kiri yakni ke arah pemandian Pluneng. Setelah itu ikuti jalan tersebut lurus ke utara ( kurang lebih 4 km ) sampai menemukan pertigaan. Kita ambil arah ke kiri yakni ke arah Kecamatan Karangnongko. Apabila rekan-rekan menemukan SMP Karangnongko di sisi kiri berarti rekan-rekan di jalur yang benar. Sampai di Kecamatan Karangnongko, kita menuju ke lapangan Koni. Letak Candi Merak di sebelah utara lapangan Koni yakni di tengah-tengah desa Merak.

Beberapa orang menyebut Candi Merak sebagai Candi Karangnongko. Hal tersebut tidaklah tepat. Mengingat Candi Karangnongko sendiri berbeda dengan Candi Merak meskipun keduanya masih dalam satu wilayah Kecamatan yang sama yakni Kecamatan Karangnongko. Candi Karangnongko sendiri berlokasi cukup jauh dari Candi Merak dan saat ini belum dipugar. Terletak di tengah-tengah area persawahan dan tampak berupa tumpukan bebatuan yang tidak beraturan.

Kembali ke Candi Merak Klaten, saya bersama dengan 2 orang rekan saya mengunjungi Candi ini setelah pulang dari kawasan wisata alam Deles Indah. Sebagai warga Klaten, rasa-rasanya saya sangat jarang mengunjungi tempat wisata baik itu wisata sejarah maupun wisata alam yang berada di Kabupaten Klaten. Beberapa orang hanya mengetahui Umbul Ponggok, Rowo Jombor, Candi Plaosan ( meskipun beberapa beranggapan candi Plaosan masih dalam wilayah DIY ) dan Candi  Sojiwan sebagai tempat wisata di Kabupaten Klaten. Padahal di Kabupaten ini ada cukup banyak tempat wisata menarik yang belum terlalu terekpose, salah satunya Candi Merak.

Sampai di Candi Merak Klaten, kami mendapati pintu masuk Candi dalam keadaan tertutup meskipun tidak terkunci. Sepertinya penjaga Candi tersebut sengaja membiarkannya tidak terkunci untuk mempersilahkan pengunjung yang datang ke Candi ini masuk ke dalam area candi.

" Masuk saja mas, gak papa "

Itulah teriakan salah satu anak-anak yang saat itu bermain di lokasi Candi Merak Klaten. Memang lokasi Candi Merak berada di tengah-tengah pemukiman warga, namun pemukiman di daerah ini termasuk pemukiman yang sepi orang yang berlalu lalang, sehingga kami agak ragu untuk masuk ke dalam area Candi karena tidak ada penjaga yang mempersilahkan.


Candi Merak Karangnongko Klaten
anak-anak yang bermain di area Candi Merak


Teriakan anak tersebut ternyata diiringi dengan celoteh beberapa anak kecil lainnya berlari arah pintu masuk, mereka membuka pintu lalu masuk ke dalam candi. Tiba-tiba beberapa anak tersebut sudah berada di bagian atas candi tepatnya di depan patung Ganesha yang nampak terpasang di tengah-tengah bagian dari Candi Merak. Beberapa anak itu sudah akrab sekali dengan area ini dan menjadikan tempat ini sebagai tempat bermain mereka. Kamipun masuk ke dalam area Candi dan berkesempatan melihat-lihat area di sekitar Candi Merak.


Sejarah Candi Merak Karangnongko Klaten


Informasi yang berhasil saya dapatkan bersumber dari papan informasi di area Candi Merak. Candi Merak dibangun dengan gaya arsitektur periode abad ke IX masehi. Keberadaan Yoni di bilik utama dan arca Ganesha di relung sisi timur, arca Agyasta di relung sisi selatan dan arca Durga di relung sisi utara menunjukkan bahwa Candi Merak merupakan Candi dengan corak agama Hindu. Upaya penelitian tentang Candi Merak sudah dimulai sejak jaman pemerintah Kolonial Belanda di Indonesia yakni sejak tahun 1936. Pada jaman itu, upaya pemugaran candi berhasil memugar sampai dengan kaki Candi Merak. Selain itu juga sudah ada upaya untuk melakukan percobaan menyusun bagian kaki, tubuh dan atap dari Candi. Pra pemugaran Candi Merak baru dilakukan pada tahun 1985 oleh pemerintah Indonesia dengan cara pengumpulan batu, pendokumentasian dan pencocokan batu. Selanjutnya pada tahun 2008 pemugaran dilakukan dan baru selesai pada tahun 2012.

Struktur Candi Merak 

Komplek Candi Merak dibagi menjadi satu induk dan 3 candi perwara. Candi perwara sendiri berada di sisi timur dari Candi induk dan menghadap ke sisi barat. Candi Merak Klaten memiliki ukuran panjang 8,86 meter, lebar 13,5 meter sedangkan tinggi 12 meter. Pemugaran Candi Merak dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah dengan dana APBD Propinsi Jawa Tengah. Bagian tubuh dan bagian kaki Candi sudah selesai dipugar pada tahun 2007 dan 2010 sedangkan bagian atap candi selesai dipugar tahun 2011.    

Bagian perwara yang belum dipugar


Komplek Candi Merak Klaten memang tidak terlalu luas. Mengunjungi Candi ini mengingatkan saya pada Candi Sukuh yang berada di Kabupaten Karanganyar tahun 2015 lalu. Komplek yang tidak terlalu luas dengan disertai Candi Candi kecil sebagai Candi Perwara. Candi induk tampak berdiri tinggi menjulang namun tidak untuk ketiga perwara yang berada di sisi timur. Bagian perwara tersebut terlihat dalam kondisi yang rusak dan belum dipugar. Balok-balok batuan andesit nampak bertumpukan menjadi 3 bagian yang terpisah. Terdapat sebuah patung binatang di tengah tumpukan batuan tersebut, patung binatang yang sudah tidak utuh lagi terlihat dari bagian kepala yang sudah tidak ada lagi.

Candi Merak Karangnongko Klaten
Patung Ganhesa yang berada di bagian tengah Candi Merak


Karena rasa penasaran kami, kamipun masuk ke bagian dalam Candi Merak. Di bagian dalam Candi Merak terdapat beberapa relung kosong. Jika tidak salah terdapat 3 relung yang berada di bagian dalam Candi Merak. Biasanya di beberapa Candi yang pernah saya singgahi, seperti Candi Plaosan  yang berada di sisi utara Candi Prambanan, relung ini digunakan sebagai tempat untuk meletakkan arca. Namun saat ini tinggal tersisa ruangan yang kosong tanpa adanya arca-arca yang dimaksudkan. Selain bisa masuk ke bagian dalam Candi kita juga bisa naik ke bagian tengah dari Candi Merak, yakni sampai di bagian depan arca Ganhesa. Arca tersebut nampak sudah rusak di beberapa bagian yakni di bagian kedua tangan dan kepalanya yang sudah putus. Selain arca ganhesa kita juga dapat melihat relief-relief yang berada pada dinding Candi Merak. Beberapa relief juga terlihat sudah mengalami kerusakan namun kita masih dapat melihat bentuk utama dari relief tersebut.

Candi Merak yang sudah tidak ada burung meraknya lagi


arca di bagian atas pintu masuk Candi Merak

Masih jelas dalam ingatan saya ketika saya berkemah di lapangan Koni yang terletak di sisi selatan dari Candi Merak Klaten. Saat itu Candi Merak dalam kondisi rusak dan belum dipugar seperti kita jumpai saat ini. Candi Merak seingat saya berlokasi di pinggir atau depan rumah seorang warga. Namun kini kondisinya sudah jauh berbeda, area Candi Merak tertata dengan sangat rapi dan terjaga kebersihannya. Mengutip dari beberapa sumber, Candi ini dinamakan dengan candi Merak bukan karena tanpa alasan. Pada jaman dahulu di area ini terdapat pohon Joho yang berukuran sangat besar. Karena sangat besar, pohon ini sering digunakan sebagai tempat bertengger dan tempat tidur burung merak, tidak tau bagaimana ceritanya burung-burung itu sampai di tempat ini. Namun karena tua pohon Joho ini tumbang dan akarnya menyebabkan beberapa arca yang telah lama terkubur di dalam tanah ikut tercabut keluar bersamaan dengan tanah disekitarnya. Setelah dilakukan penggalian lebih lanjut ditemukan situs candi di area tersebut. Oleh masyarakat sekitar Candi itu dinamakan sebagai Candi Merak karena dahulu tempat ini terdapat banyak burung merak. Namun jangan ditanya apakah saat ini terdapat burung merak atau tidak, karena itu sudah pada masa lampau. Yang tertinggal saat ini adalah beberapa ayam yang terlihat sedang mencari makan di area Candi Merak. " mungkin itu evolosinya merak " ujar virmanysah rekan saya yang saat itu mengunjungi Candi Merak.


Keunikan Candi Merak 


Candi Merak Klaten memang tergolong Candi dengan ukuran kecil, bahkan tidak ada sepersepuluh kawasan Candi Ratu Boko yang gagah berdiri di sisi selatan Candi Prambanan. Namun dengan ukurannya yang kecil bukan berarti Candi ini kalah menarik dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang berukuran lebih besar terutama di wilayah Yogyakarta. Di beberapa bagian dari Candi Merak dapat kita jumpai relief-relief dan arca-arca yang berbentuk unik, seperti arca atau ornamen makara yang berbentuk ular dan terdapat pada pintu masuk sebelah timur, dan beberapa relief yang terpahat di dinding Candi Merak. Selain itu kawasan Candi yang masih asri dan tenang menjadikan kita leluasa dan puas mengambil beberapa gambar untuk keperluan dokumentasi pribadi.

Minimnya Promosi  


Saya, Mbak , Dwi Jayanti, mas Virmansyah  

Candi Merak Karangnongko sebagai salah satu destinasi wisata budaya khususnya di Kabupaten Klaten mungkin belum dikenal oleh masyarakat luas. Minimnya promosi terhadap wisata budaya di Kabupaten ini berdampak pada sedikitnya masyarakat yang mengetahui keberadaan Candi Merak dan berdampak sedikitnya pengunjung di Candi ini. Harapan saya Candi Merak dapat terus terjaga kelestariannya dan dapat menjadi salah satu wisata unggulan di Kabupaten Klaten dengan tetap menjaga nilai-nilai historisnya sebagai peninggalan kebudayaan agama Hindu. Semoga dengan artikel ini pembaca dapat tertarik untuk mengunjungi kawasan Candi Merak yang berada di Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten. yuk visit Klaten !!!.  
   

Friday, 7 July 2017

misteri Candi Sukuh karanganyar, candi unik berbentuk piramida suku maya


Di Kabupaten Karanganyar, tepatnya di timur kota Solo, terdapat sebuah candi yang bernama candi Sukuh. Candi tersebut mirip dengan peninggalan suku Maya di Amerika tepatnya di negara bagian Meksiko. Di negara tersebut, konon terdapat sebuah bangunan kuil yang didirikan pada tahun 800 SM. Kuil tersebut bernama Chichen Itza dan telah ditetapkan sebagai salah satu keajaiban dunia pada tahun 2007. Kalau diperhatikan di gambar, bentuk kuil tersebut tak jauh beda dengan Candi Sukuh yang berada di Karanganyar. Meskipun memiliki ukuran yang jauh lebih besar, keduanya memiliki arsitektur yang sama, yakni berbentuk seperti bentuk piramida.

Kali ini saya  bersama dengan rekan saya berkesempatan mengunjungi Candi ini. Dari berbagai sumber yang saya peroleh, candi Sukuh dikenal sebagai candi yang penuh dengan misteri. Hal itu dikarenakan adanya cerita yang berkembang di kalangan masyarakat tentang adanya ritual uji keperawanan yang dilakukan disana. Candi Sukuh, selain dikenal sebagai tempat uji keperawanan juga dikenal sebagai bangunan suci peninggalan agama Hindu.

candi sukuh karanganyar
bagian utama dari candi sukuh ( sumber : wikipedia )


Rute menuju Candi Sukuh dari Solo

Candi Sukuh berlokasi di Dukuh Sukuh, Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah. Untuk menuju ke Candi rekan-rekan bisa menggunakan angkutan umum. Jarak candi Sukuh dari kota Karanganyar sekitar 20 km sedangkan dari kota Solo berkisar antara 30-35 km. Jika rekan-rekan ingin menggunakan kendaraan umum bisa menggunakan kendaraan bus ke arah Tawangmangu dan turun di terminal Karangpandan ( terminalnya kecil di sisi kanan jalan ). Dari Terminal Karangpandan lalu ganti angkutan ( menggunakan mini bus ) menuju ke daerah Nglorok. Minibus akan berhenti di Nglorok dan rekan-rekan harus berjalan kaki ke arah kompleks Candi Sukuh. Tanjakan disini cukup berat dan panjang, namun jangan khawatir, ada jasa ojek yang bisa kita gunakan untuk bisa mengantar sampai di pelataran Candi Sukuh. Bila kita menggunakan kendaraan pribadi, dari terminal Karangpandan ikuti jalan yang sudah mulai menanjak ke arah Tawangmangu, lalu belok ke kiri di pertigaan kedua setelah Terminal Karangpandan ( terdapat penunjuk jalan yang cukup jelas di pertigaan ini, belok kanan ke Tawangmangu dan belok kiri ke Candi Sukuh ). Di sepanjang perjalanan kita akan dimanjakan dengan udara khas pegunungan dengan rimbunnya pohon pinus dan sesekali kita akan melewati kebun teh yang cukup luas.

Tidak sampai 2 jam perjalanan dari arah kota Solo sampailah saya di Lokasi Candi Sukuh. Bagi yang baru pertama kali mengunjungi candi ini mungkin akan bingung mencari tempat pembelian tiket. Hal ini dikarenakan letaknya bukan di depan atau jalan utama setelah parkiran kendaraan bermotor, melainkan di bagian pojok kompleks candi. 

Candi Sukuh Teras Pertama

candi sukuh karanganyar
teras pertama candi sukuh


Memasuki area pelataran Candi sukuh kita disambut dengan Gapura Kecil yang mengarah ke sisi barat lereng gunung Lawu. Nampak pemandangan yang masih sangat asri di area ini. Pelataran di Candi Sukuh tidaklah begitu luas, mirip dengan Candi Merak yang berada di daerah Karangnongko Klaten. Nampak dari sini, Candi utama dengan ciri khasnya berbentuk rata pada bagian puncak. Halaman dari Candi Sukuh memiliki 3 teras utama. Menurut cerita yang saya peroleh dari salah satu petugas yang mengelola tempat ini, pada jaman dahulu apabila seseorang hendak mencapai teras utama, maka orang tersebut harus melewati tangga batu yang panjang dari dataran sampai halaman candi. Di pintu masuk ini pula terdapat relief dengan bentuk cukup vulgar. Relief di gapura masuk yang berbentuk alat k*lamin pria dan wanita tersebut memiliki makna tentang kesuburan dan kesucian. Harapannya bagi para pengunjung yang melewati gapura masuk tersebut telah dihapuskan ( dilebur semua pikiran kotor serta hawa nafsu ) guna mempersiapkan diri untuk masuk ke area yang suci di tingkat berikutnya.

Candi sukuh teras yang kedua

candi sukuh karanganyar
teras kedua candi sukuh


Tidak jauh dari teras pertama, kurang lebih berjarak 40 meter kita akan masuk ke bagian teras yang kedua. Terdapat 2 buah tatanan batu besar di teras yang kedua ini. Bila teras yang pertama terdapat atap di bagian gapura sebagai pintu masuk, di teras yang kedua ini saya tidak menemukan atap atau sisi bagian atas dari gapura. Disini hanya ada dwarapala atau patung penjaga pintu yang sudah mengalami beberapa kerusakan.

Bagian utama Candi Sukuh

Tujuan kami tentunya ingin masuk ke bangunan utama Candi Sukuh. Candi dengan ukuran tidak terlalu besar ini jika kita amati bentuknya nampak tidak lazim. Tidak lazim mengingat beberapa bangunan candi di beberapa daerah khususnya di daerah Yogyakarta memiliki bentuk lancip dengan adanya ratna di bagian puncaknya, seperti yang dapat kita temukan di Candi Prambanan atau candi Plaosan. Di bagian atas dari Candi Sukuh terdapat sebuah tempat datar dan bisa kita capai dengan menaiki tangga yang berada di bagian tengah dari Candi. Di bagian samping kanan dan kiri candi terdapat patung kura-kura dengan ukuran yang cukup besar ( kura-kura sebagai lambang dari dunia ).


candi sukuh karanganyar
bagian atas candi 

Pada waktu saya mengunjungi candi Sukuh, Candi Sukuh sangat sepi oleh pengunjung, saya tidak perlu harus mengantri untuk bisa naik ke bagian atas candi. Dengan melewati tangga yang sempit dan dengan lebar kurang lebih 1 meter serta menapaki beberapa anak tangga akhirnya saya sampai di bagian atas candi. Di bagian atas Candi saya dapat melihat keseluruhan kompleks candi temasuk sisi bagian belakang. Disini pula kita bisa menikmati keindahan alam sekitar serta bisa melihat jauh arah kota Solo. Di sisi kanan kita terdapat beberapa arca dengan bentuk-bentuk yang misterius dan di sisi kiri Candi terdapat patung-patung dengan bentuk yang cukup aneh. Di bagian atas candi juga terdapat tempat untuk meletakkan dupa dan tempat yang digunakan untuk menaruh sesaji. Tempat ini dipercaya sebagai tempat tinggal Kyai Sukuh. Seringkali orang datang memberikan sesaji dan kemenyan sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Sukuh. 

Relief misterius di sisi Candi sukuh

Setelah puas mengambil beberapa gambar di atas candi, maka tempat tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke bagian relief yang tersusun rapi di sisi kanan candi. Relief-relief disini berbeda dengan relief di beberapa candi lainnya. Banyak tokoh dengan bentuk yang cukup aneh di tempat ini. Sebut saja seorang dengan kepala cukup besar dan berbadan kecil mirip tokoh-tokoh alien yang biasa kita temukan di beberapa film fiksi. Ada juga tokoh dengan mata sipit seperti layaknya seorang Tionghoa. Meskipun dipenuhi dengan relief-relief dengan bentuk aneh, di tempat ini masih ada relief dengan corak khas Nusantara yakni relief yang menceritakan cerita pewayangan. Relief di candi ini mengisahkan cerita kuno Sudamala. Cerita ini dimulai dengan seorang yang diikat pada batang pohon “Kepuh Randu” sedangkan di depannya berdiri seorang dewi yang berwajah menakutkan sambil mengangkat sebilah pedang dan dikawal oleh serombongan hantu. Orang yang diikat ini adalah Sadewa ( Pandawa termuda yang dipersembahkan untuk Betara Durga atau Ratu dari para Hantu ). Sadewa dapat meruwat atau membebaskan Durga dari kutukan yang berwajah Raseksi menjadi dewi yang cantik kembali. Awalnya Durga dikutuk oleh Batara Guru akibat perbuatannya serong kepada seorang gembala. Durga menjadi raseksi dan diusir serta harus turun ke dunia di Setra Gandamayu. Kutukan tersebut telah dilaksanakan meskipun pada akhirnya Durga berhasil dibebaskan oleh Sadewa sebagaimana diceritakan pada relief.

candi sukuh karanganyar
relief dengan berbagai cerita mistis


Selanjutnya tampak Sadewa yang oleh dewi Uma diberikan nama Sudamala ( bersih dari dosa ) berlutut penuh hormat dihadapan Batari Durga beserta pengikutnya yang telah pulih kembali menjadi dewata. Semar, punakawan yang paling setia terhadap Pandawa yang dalam relief terdahulu tampak jongkok dan ketakutan. Nampak pula 3 orang wanita berdiri di atas bantal teratai, menandakan kedudukan mereka sebagai penghuni kayangan yang telah terbebas dari kutukan.

ada yang tahu di relief ini tokoh siapa ???


Relief berikutnya yang dapat kita lihat adalah adegan pertemuan antara Sadewa beserta pengikutnya dengan pendeta buta Tambrapetra dari Nakanwanya. Cerita Sudamala mengisahkan, atas perintah Batari Durga yang telah dibebaskan dan menjadi Dewi Uma kembali, Sadewa harus melangsungkan perkawinan dengan seorang anak dari pendeta buta. Pertapa itu pun berhasil pula dibebaskan dari kebutaan oleh Sadewa. Disini pula kita bisa melihat seorang raksasa bernama Kalantaka diangkat dan ditusuk oleh Bima yaitu kakak Sadewa. Pada bidang relief ini, terdapat inskripsi dengan angka tahun 1371 Caka ( 1449 Masehi ). Bima yang kita jumpai pada beberapa tempat di candi Sukuh, dapat kita kenal dari pahanya yang telanjang, dan juga kainnya dengan motif kotak-kotak. Ia memiliki kuku panjang, yang dapat dipergunakan sebagai senjata untuk menyobek perut musuhnya.

Tugu di candi Sukuh

Selain memiliki beberapa relief yang mempunyai banyak cerita misteri, di candi Sukuh terdapat beberapa bangunan ( menyerupai tugu ) yang memiliki dan berisikan cerita tentang pewayangan. Pada bagian tugu pertama terdapat relief dua orang wanita sedang disisi lainnya terdapat seekor garuda sedang terbang. Pada kedua sisi lainnya kita dapat melihat naga yang merayap secara berurutan. Dua gambar ini termasuk di dalam cerita dua orang wanita bersaudara, Kadru dan Winata, hal ini dikisahkan di dalam cerita Hindu kuno yang sudah banyak tersebar. Agak jauh dari tempat ini kita juga bisa melihat tugu yang dihiasi ornament pada kedua sisinya. Bagian belakang menampakkan seorang raja bersenjatakan sebilah keris dan raksasa yang terbang di atasnya. Sangat disayangkan karena tidak jelas siapakah tokoh yang digambarkan tersebut. Namun gambar disisi muka jelas artinya dimana digambarkan seekor garuda yang terbang membumbung di angkasa sambil mencengkeram seekor gajah pada cakar yang satu dan seekor kura-kura di cakar yang lainnya. Tugu ketiga bagian belakangnya memperlihatkan kepada kita sosok Arjuna. Kita kenal dengan adanya yang bergambar kera, dan rombongan punakawan yang berbaris sambil membawa gong peperangan. 


beberapa tugu nampak dengan kokoh berdiri


Tugu yang keempat memperlihatkan seorang tokoh pahlawan kera ( seperti Hanoman ) dari cerita Rama bersama-sama dengan seorang tokoh raja berdiri di muka seorang pertapa yang menundukkan kepalanya di tugu tersebut. Di bagian muka Candi terdapat sebuah hiasan dengan bentuk tapal kuda namun dengan ukuran yang cukup besar serta di bagian kanan dan kirinya berbentuk seperti kepala Kijang. Sangat disayangkan kepala kijang yang dimaksud telah rusak. Di bagian muka kita juga dapat melihat relief berbentuk Bima di depan Batara Guru, penguasa dari Kahyangan. Di bagian bawah dari tugu ini terdapat beberapa pahatan berupa dua tokoh yang berusaha memperebutkan bayi, dimungkinkan hal ini masih berhubungan dengan tradisi ruwatan untuk anak tunggal agar tidak terkena bala atau bencana.   


Cerita garuda di Candi Sukuh

Di candi Sukuh terdapat patung garuda yang berdiri dengan berhiaskan relief di bagian bawahnya. Pada patung ini terdapat sebuah cerita menarik. Cerita yang dikisahkan adalah sebagai berikut : Pada suatu hari garuda mendengarkan cerita bahwa untuk dapat membebaskan ibunya dari perbudakan, ia harus mampu merebut air minuman para dewa-dewa Amerta dan menyerahkannya pada para naga. Seketika ia memutuskan untuk melaksanakannya, lalu pergilah dia. Di tengah jalan dia merasa lapar dan membuka parunya lebar-lebar seperti goa. Suaranya yang bergemuruh menyebabkan seluruh anggota suatu suku ketakukan dan lari memasuki paruh sang garuda tersebut, anggota suku tersebut kemudian ditelannya. Akan tetapi setelah menelan orang yang berlari ke arahnya, menyebabkan tenggorokannya terasa gatal. Karenanya di antara orang-orang yang ditelannya tersebut terdapat beberapa Brahmana, maka sang garuda memuntahkannya kembali.

patung garuda candi sukuh
patung garuda candi sukuh

Untuk menghilangkan laparnya, ia menyambar seekor kura-kura dan gajah ( kedua binatang ini sebenarnya adalah dua bersaudara dan terkena kutukan ), kedua binatang tersebut dibawa menggunakan cakarnya, kemudian dijatuhkan lalu dimakannya. Dengan demikian kedua binatang tersebut bebas dari kutukannya dan kembali menjadi manusia. Garuda melanjutkan perjalanan menuju tempat penyimpanan Amerta di kayangan. Sesampainya disana, dia menemukan adanya roda dan tombak yang terdiri dari tubuh manusia sehingga tidak memungkinkannya untuk bisa masuk. Dengan cara mengecilkan dirinya, sang garuda bisa masuk lalu menyelinap ke dalam kahyangan dan berhasil merebut amerta yang menjadi incarannya. Akhirnya Amerta tersebut berhasil diserahkan kepada para naga. Sewaktu para naga tersebut memandikan diri dan berebut amerta, maka datanglah Batara Indra merebutnya. Para naga menjilat-jilat tempat dimana air tersebut diletakkan, dan karena tajamnya rumput-rumput disitu, lidah para naga terbelah sebagai mana kita lihat sampai sekarang.

Cerita tersebut hanyalah sebagian kecil cerita yang bisa kita lihat di bagian pahatan dinding atau relief Candi Sukuh. Sebagian besar cerita dapat kita temukan di bagian atas dari sebuah tugu yang berdiri di pojok petak tengah dan menjulang tinggi. Di bagian itu pula kita juga bisa melihat relief sang garuda berada di muka gubug tempat penyimpanan amerta dengan tombak-tombak dan pisaunya. Di beberapa sudut candi terdapat beberapa parit kecil yang berfungsi mengalirkan air hujan yang berasal dari bagian atas candi. Menilik lebih jauh lagi, di dalam batu-batuan candi juga terdapat saluran air. Meskipun kecil, hal ini sangat menarik perhatian dimana pada zaman dahulu sudah ditemukan sistem saluran air yang tertata dengan rapi dan terstruktur.    

Ritual uji keperawanan  dan keperjakaan di candi Sukuh

Sebagai tambahan informasi, candi Sukuh pada zaman dahulu dikenal sebagai tempat untuk menguji kesetian terutama bagi pasangan yang ingin melangsungkan penikahan. Keduanya melakukan ritual untuk menguji apakah pihak dari wanita masih perawan maupun melakukan uji keperjakaan terhadap pihak laki-laki. Adapun ritual yang harus dilakukan adalah : Bagi seorang wanita yang ingin menguji keperawanan dianjurkan untuk melompati sebuah batu pada patung dengan bentuk manusia sedang memegang bagian alat v*talnya, apabila wanita tersebut mengeluarkan darah pada bagian kemaluannya berarti wanita tersebut masih perawan. 

ini dia patung yang dimaksud, patung sebagai ritual uji keperawanan


Selain itu bisa dengan cara lain, yakni : wanita yang akan diuji keperawanannya dianjurkan menggunakan kebaya, setelah itu wanita tersebut dianjukan untuk melangkahi relief persenggamaan. Apabila kebaya yang dipakai terlepas maka artinya wanita tersebut telah berselingkuh atau tidak perawan lagi. Selain itu sesorang wanita juga dinyatakan tidak perawan apabila kain yang dikenakan robek. Hal itu berlaku bagi wanita, bagaimana dengan seorang Pria? Bagi pria yang sudah berselingkuh atau tidak perjaka lagi bila setelah melangkahi relief tersebut dia akan terkencing-kencing. Bagaimana rekan-rekan ?? mau membuktikannya?? kalau saya pribadi meyakini hal tersebut hanya sebagai mitos belaka.

patung dengan bentuk vulgar


Mengunjungi Candi Sukuh tidak ubahnya mengunjungi sebuah tempat yang penuh dengan teka-teki. Ornamen-ornament yang ada disana tidak lazim kita temukan di beberapa candi di tanah Jawa. Banyak pula yang menyebutkan candi Sukuh merupakan candi yang vulgar karena di candi ini terdapat beberapa patung yang secara jelas menampilkan beberapa bentuk alat v*tal manusia. Meskipun demikian, ada baiknya kita harus tetap berfikir positif dalam menanggapi suatu hal terutama menyangkut mitos yang beredar di tengah masyarakat. Pesan yang bisa saya dapatkan setelah berkunjung ke candi Sukuh adalah, bahwasanya seseorang harus bisa menjaga kesetiaan dan kesucian dirinya serta tidak melakukan hal-hal yang gegabah hanya untuk sekedar menuruti hawa nafsu belaka. Demikian pengalaman saya mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar, semoga bisa menjadi referensi tempat liburan bagi rekan-rekan.

Bagaimana rekan-rekan, tertarik mengunjungi Candi Sukuh Karanganyar ?? 

Wednesday, 7 June 2017

Candi Barong Prambanan, wujud pengharapan terhadap Dewi kesuburan

Candi Barong Prambanan-Yogyakarta. "Candi yang diatas sana itu namanya Candi Barong dek, lokasinya di atas bukit. Kalau mau kesana bisa lewat rute jalan mblusuk dari Candi Banyunibo ke timur lalu ikuti saja jalannya yang menanjak, atau adek lewat saja jalan arah SMP Prambanan Klaten lurus ke arah Spot Riyadi. Ikuti saja jalannya sampai menemukan papan penunjuk arah ke Candi Barong." 

Candi Barong Prambanan
Candi Barong Prambanan

Itulah obrolan singkat saya tentang dengan salah satu Bapak pegawai dinas purbakala yang saat itu sedang bertugas berjaga di loket pembelian tiket masuk tempat wisata budaya Candi Banyunibo. Memang saya sendiri mengetahui adanya Candi Barong ketika saya mengunjungi Candi Banyunibo. Menurut informasi yang saya peroleh, Candi Barong berlokasi tidak jauh dari Candi Banyunibo, oleh karenanya saya disarankan untuk mengunjungi Candi tersebut.

Rute menuju Candi Barong  

Secara administratif Candi Barong berlokasi di Dusun Candisari, Desa Sambirejo, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman, DI Yogyakarta. Bila rekan-rekan dari arah Jalan Yogya - Solo bisa melalui rute Prambanan ke selatan. Dari arah Yogya, kita berbelok ke selatan tepat di pertigaan jalan di sisi selatan gapura - ikuti jalan tersebut sampai menemukan jalan yang menanjak - belok kiri melewati SMP Prambanan Klaten -  sampai di pertigaan ambil kiri - ikuti jalan tersebut - sampai di pertigaan ( bila ke kiri ke arah Spot Riyadi ). Kita ikuti jalan yang ke kanan kurang lebih 1 km, kita sudah sampai di Candi Barong. Sebenarnya untuk bisa mencapai Candi Barong kita bisa saja melalui jalan di sisi timur Candi Bayunibo, namun rute tersebut cukup sulit dilalui dan menanjak, oleh karenanya bila rekan-rekan tidak suka dengan perjalanan yang sulit, bisa melewati rute yang telah saya sebutkan :D. 


Tempat pembelian tiket candi barong
Tempat pembelian tiket dan pusat informasi


Candi Barong bukanlah satu-satunya peninggalan purbakala yang bisa kita temukan di daerah tersebut. Di daerah itu kita juga bisa menemukan area dengan banyak bebatuan yang nampaknya belum dipugar. Situs Purbakala tersebut terletak di sisi kiri sebelum tempat pemesanan tiket masuk Candi Barong. Setelah membayar biaya masuk sebesar Rp.5000; saya pun bergegas menuju ke arah bangunan utama Candi Barong. 
Begitu mendengar Candi Barong, dalam pikiran saya terbersit sebuah Candi yang ukurannya tidaklah terlalu besar dan kondisinya tidak begitu terawat seperti beberapa situs purbakala lainnya yang biasa saya temukan di sekitar Kabupaten Klaten dan Kecamatan Prambanan. Namun dugaan saya ternyata tidak tepat. Candi Barong adalah sebuah Candi yang eksotis serta terawat dengan cukup baik yang lokasinya berada di atas bukit dengan pemandangan sekitar yang mempesona. Terletak pada bukit dengan ketinggian 199,27 meter di atas permukaan air laut, membuat Candi ini nampak megah apabila kita melihatnya dari area yang cukup jauh. 

Sudah berasa di Hollywod 


Pintu masuk Candi Barong berada di sisi Selatan Candi, namun saya malah masuk halaman Candi dari arah utara, alhasil saya harus memutar palataran disisi utara Candi terlebih dahulu sebelum sampai di pintu utama. Maklum saja, ini adalah kunjungan saya yang pertama, jadi belum hafal tentang bagian-bagian dari Candi Barong. Area di sisi utara Candi merupakan pelataran yang ditumbui oleh rerumputan. Di beberapa sudut disediakan gazebo yang bisa pengunjung gunakan sebagai tempat berteduh apabila hari sangat panas atau ketika turun hujan ; D. 

Sejarah Candi Barong 

Bersumber dari info yang saya baca di papan informasi, Keberadaan Candi Barong diketahui berdasarkan catatan dari Belanda yang disusun oleh ROD pada tahun 1915. Dalam catatan Belanda tersebut, Candi Barong disebut sebagai Candi Sari Soro Gedug. Namun oleh masyarakat sekitar candi tersebut lazim disebut sebagai Candi Barong. Hal itu dikarenakan adanya sebuah dekorasi kala yang oleh masyarakat Jawa diidentikkan dengan Barongan

Candi Barong dilihat dari sisi Timur


Candi Barongan didirikan sebagai tempat  bagi agama Hindu untuk memuja dewa Wisnu dan Dewi Sri. Dewa Wisnu merupakan salah satu Dewa dari Trimurti yang berkedudukan sebagai Dewa pemelihara. Sedangkan Dewi Sri merupakan salah satu cakti dari Dewa Wisnu, dianggap sebagai Dewi Padi dalam kehidupan masyarakat Jawa. Pemujaan kepada Dewa Wisnu dan Dewi Sri terkait dengan kehidupan masyarakat pada waktu itu yang sebagian besar menggantungkan hidupnya dari hasil pertanian. Oleh karena kondisi lingkungan yang tandus maka masyarakat sekitar berharap dengan melakukan pemujaan terhadap Dewa Wisnu dan Dewi Sri mendatangkan berkah berupa kesuburan dan hasil panen yang baik terhadap tanaman pangan yang mereka tanam di sekitar Candi Barong   



Untuk upaya pemugaran Candi Barong sendiri sudah dilakukan sejak tahun 1987 dengan diawali dengan pemugaran candi di sisi utara. Sewaktu pemugaran tersebut banyak ditemukan benda-benda arkeologis. Ditemukan pula 9 kotak berbentuk bujur sangkar yang merupakan gambaran dari wastupurusandamala. Menurut Stella Kramisch kotak yang terletak di tengah merupakan tempat terkumpulnya potensi gaib yang menguasai alam semesta, sedangkan ke 8 kotak lainnya merupakan penjelmaan dari Dewa mata angin.


Candi Barong terbagi menjadi 3 bagian. 

Hal yang membedakan candi Barong dengan candi-candi lainnya di daerah Yogyakarta adalah, selain candi ini berdiri di atas bukit yang cukup gersang Candi Barong mempunyai halaman atau pelataran yang cukup luas. Adapun 3 halaman atau tingkatan dari Candi Barong diantaranya: 

Halaman pertama merupakan halaman berupa area rerumputan yang luas dan berbentuk persegi, area ini menurut salah satu petugas yang berhasil saya wawancarai, pada sore hari sering digunakan sebagai tempat untuk mencari rumput oleh warga sekitar Candi guna keperluan pakan ternak mereka. Namun karena saya berkunjung pada saat siang hari, saya tidak menemukan pencari rumput yang dimaksudkan.

Halaman kedua merupakan pelataran yang cukup luas serta tidak dijumpai bangunan. Di sisi timur terdapat pagar terluar yang pada saat ditemukan masih terkubur di dalam tanah. Di halaman kedua ini kita bisa melihat bekas-bekas bangunan berupa pondasi yang terbuat dari batu andesit. Bekas pondasi yang ada mirip dengan beberapa bagian di Candi Ratu Boko. Kemungkinan bangunan yang berdiri di halaman kedua merupakan bangunan yang terbuat dari bahan kayu dan sudah rusak karena dimakan oleh usia.

Halaman ketiga merupakan bangunan utama dari Candi Barong. Terdapat 2 buah Candi yang berukuran 8,18 x 8,18 meter dengan ketinggian 9,15 meter. Bila kita perhatikan kedua Candi tersebut berada pada posisi yang tidak simetris. Untuk masuk ke halaman ketika terdapat sebuah pintu atau gapura kecil yang berhiaskan ornament kala pada bagian atasnya. Ornament kala di bagian ini memiliki ukuran paling besar dibandingkan dengan ornament serupa di bagian lain dari Candi Barong.

Candi Banyunibo yang nampak dilihat dari pelataran Candi Barong

Menurut informasi yang saya peroleh, Candi induk pada Candi Barong selesai dipugar pada tahun 1992. Pemugaran kemudian dilanjutkan dengan pemugaran talud dan pagar. Dalam proses pemugarannya ditemukan juga sejumlah penemuan arkeologis seperti dua buah patung Dewa Wisnu, dua bauh arca Dewi Sri, beberapa arca yang belum selesai dikerjakan dan sebuah arca dari Dewa Ganesha. Ditemukan juga kotak-kotak peripih yang terbuat dari batuan andesit. Di dalam kotak-kotak tersebut terdapat lembaran-lembaran emas serta perak. Pada lembaran emas terdapat goresan tulisan namun karena kondisinya rusak sehingga tidak bisa terbaca. Selain itu juga ditemukan pula sejumlah peralatan rumah tangga lainnya seperti guci, mangkuk keramik, mata kapak serta sendok.

salah satu sudut candi Barong


Berada di Candi Barong mengingatkan saya pada pengalaman mengunjungi Candi Ijo. Memang kedua Candi ini memiliki beberapa kemiripan. Kemiripan pertama, sama-sama terletak di atas bukit, yang kedua adalah bentuk dari Candi utama Candi Barong yang berjumlah 2 Candi, hampir mirip dengan bentuk dari Candi Ijo yang merupakan 3 candi kecil yang berada di sisi barat dari Candi Utama. Di bagian Candi utama dari Candi Barong, kita akan dapat menemukan beberapa relief dengan hiasan berupa sulur menghiasi area di sekitar relung kosong yang di bagian atasnya terdapat hiasan kala seperti yang telah saya sebutkan. Relung-relung kosong tersebut konon digunakan sebagai tempat meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri.

Relung kosong, konon dahulu digunakan untuk meletakkan arca Dewa Wisnu dan Dewi Sri


Pada saat saya mengunjungi Candi Barong, hanya terdapat 3 orang pengunjung yang datang ke tempat ini. Hal tersebut sangat berbeda dibandingkan dengan candi-candi lainnya yang banyak dikunjungi. Dimungkinkan akses yang cukup sulit dan minimnya informasi serta publikasi membuat candi ini sepi pengunjung.

ornament kala di pintu masuk teras ketiga

Candi Barong meskipun terletak di atas bukit serta memiliki akses yang sulit untuk dicapai namun saya rasa tempat wisata ini memiliki fasilitas pendukung yang cukup memadai. Di berbagai sudut telah disediakan beberapa gazebo yang bisa dimanfaatkan pengunjung untuk beristirahat, layanan informasi, toilet serta mushola. Hal yang perlu dibenahi oleh pengelola tentu saja area parkir, mengingat area parkir di tempat wisata ini masih sempit dan masih terbuat dari bangunan semipermanen. Harapannya dengan adanya fasilitas yang memadai dan dengan didukung sarana informasi serta publikasi yang cukup, masyarakat menjadi lebih mengetahui keberadaan candi ini dan dapat menumbuhkan minat untuk mengunjungi tempat-tempat wisata budaya lainnya.


fasilitas di Candi Barong

Mengunjungi Candi Barong dan menelisik lebih dalam tentang sejarahnya setidaknya bisa membuka wawasan kita dan mengetahui rekam jejak kehidupan masa lalu nenek moyang kita, bangsa Indonesia. Meskipun berada di tanah yang tandus namun masyarakat pada jaman dahulu yang hidup di sekitar Candi Barong tidak lantas kehilangan akan pengharapan. Pengharapan akan kesuburan tanah, pengharapan akan hasil panen yang melimpah, semua dipanjatkan dengan ucapan syukur kepada Dewa Wisnu serta Dewi Sri sang dewi Padi dan Dewi Kesuburan.

"Bagaimana, pembaca tertarik mengunjungi Candi Barong ??"


Wednesday, 24 May 2017

Taman sari Yogyakarta Istana air di lingkungan Keraton

Taman sari Yogyakarta atau Taman sari Watercastle merupakan salah satu tempat wisata yang banyak dikunjungi baik itu oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing yang sedang berlibur ke Yogyakarta. Situs ini memiliki sejarah yang panjang, sebuah kolam rekreasi yang dibangun kurang lebih 200 tahun yang lalu dan menjadi tempat rekreatif bagi sang raja untuk menenangkan diri dari segala beban psikologis yang dihadapinya dalam memimpin, mengambilan keputusan yang mengandung keadilan, kebenaran, kemakmuran, kebenaran serta kemenangan.

Kawasan Taman Sari

Sudah menjadi hal yang lumrah bahwasanya seiring dengan bertambahnya beban serta tanggung jawab yang diemban oleh seorang raja, beban psikologis yang dihadapinya akan semakin meningkat. Hampir setiap hari raja dihadapkan oleh segala macam keruwetan dalam bidang pemerintahan. Permasalahan yang muncul seringkali memaksa seorang pemimpin harus bisa berfikir secara jernih guna mengambil keputusan secara arif dan bijaksana karena segala keputusan dan kebijakannya sangat berpengaruh terhadap hidup orang banyak.



Oleh karenanya seorang raja sebagai pemimpin kerajaan memerlukan tempat yang tenang, sebuah lingkungan yang santai guna menopang ketepatannya dalam memimpin dan mengambil keputusan. Taman Sari Yogyakarta atau Taman sari Watercastle dibangun untuk memenuhi segala kebutuhan keluarga Keraton Yogyakarta sebagai tempat yang rekreatif dan sebagai jawaban dari keseimbangan beban psikologisnya itu.

Pintu masuk kawasan Taman Sari ( Gapura Panggung )


Atas ajakan rekan saya dari Solo, di hari Minggu yang cukup cerah saya berkesempatan untuk mengunjungi kawasan Taman Sari Yogyakarta. Untuk menuju ke Taman Sari kita bisa melalui Malioboro - alun-alun utara - masuk ke kawasan Keraton tepatnya di jalan Taman. Kawasan Tamansari terletak kurang lebih 400 meter dari halaman Kemagangan Keraton Yogyakarta sedangkan apabila kita menggunakan kendaraan bermotor cukup memerlukan 5 menit saja dari arah Keraton. Memasuki kawasan Taman Sari kita akan bertemu dengan bangunan yang cukup unik yakni pintu gerbang Taman Sari lengkap dengan 2 patung naga di sisi kiri dan kananya. Bangunan itu disebut sebagai Gapura Panggung. Setelah membayar tiket masuk dan membayar biaya tambahan karena saya membawa sebuah kamera saya'pun dipersilahkan masuk oleh petugas yang berjaga disana.

area Pencaosan Taman Sari
area Pencaosan

Secara umum, kompleks  Taman sari dapat dibagi menjadi 4 bagian yakni : Danau segaran, Gedhog Gapura Heyeg, Pasarean Dalem Ledog Sari dan yang terakhir adalah Jembatan Gantung yang kini sudah tidak tersisa lagi. Masuk di area pertama setelah Gapura Panggung, kita dihadapkan peda sebuah area yang cukup luas dengan setidaknya 4 bangunan limas di sisi kiri dan kanan kita. Bangunan tersebut bernama tempat pencaosan ( pos penjagaan ) serta digunakan sebagai tempat paseban ( ruang ganti ) yang digunakan oleh abdi dalem Keraton sebelum dan setelah selesai bertugas. Area inipun cukup sejuk dengan adanya pepohonan disekitarnya. Setelah memasuki area ini, kita akan memasuki area kolam pemandian.

Kolam pemandian Taman Sari

Kolam pemandian Taman Sari terletak di sebelah selatan masjid dan bila kita perhatikan, area ini membujur dari sisi utara ke selatan. Terdiri dari dari 3 bagian utama, yakni kolam yang dibangun khusus untuk mandi putra-putri sultan yakni kolam pemandian atau Umbul Kawitan, yang kedua adalah kolam pemandian yang dikhususkan bagi permaisuri yakni Umbul Pamuncar. Khusus untuk Sultan Sendiri dibangun sebuah kolam yang bernama Umbul Panguras. Sementara itu diantara umbul panguras dan Pamuncar dibangun sebuah bangunan yang digunakan untuk menyimpan barang-barang pusaka Sultan yang disebut sebagai Gedung Cemeti.

Menara Taman Sari
Menara Taman Sari 

Area kolam pemandian dipenuhi dengan air yang berwarna hijau tosca. Air yang memenuhi kolam pemandian disalurkan melalui saluran air dan bermuara pada pancuran dengan bentuk yang unik yakni bentuk mirip dengan bunga teratai pada bagian tengah kolam. Tepat diantara umbul kawitan dan umbul pamuncar dipisahkan oleh sebuah sekat berupa jalan yang bisa kita lalui. Bila kita perhatikan di sisi selatan dari kolam pemandian terdapat sebuah bangunan yang cukup besar dan terlihat menjulang dibandingkan dengan bangunan yang lainnya. Menurut pemandu menara itu digunakan sebagai tempat bagi Sultan untuk mengamati selir dan puterinya yang sedang mandi di bawah.

area Taman Sari yang digunakan untuk keperluan Fotografi


Di sisi selatan dari kolam pemandian terdapat beberapa ruang kecil yang membujur dari utara ke selatan dan terdiri dari 10 kamar. Menurut pemandu, kamar-kamar tersebut berfungsi sebagai tempat tidur permaisuri raja. Sedangkan bangunan di sisi utara dari pemandian digunakan khusus bagi Sultan. Ruangan di sisi utara kolam terdiri dari 2 kamar. Konon tempat ini digunakan sebagai tempat untuk bersemedi sedangkan ruangan yang lain digunakan sebagai tempat bertemunya Sultan dengan penguasa Pantai Selatan Jawa yakni Kanjeng Ratu Kidul.


Setelah melalui kolam pemandian Taman Sari tujuan saya selanjutnya adalah menuju ke Masjid Taman Sari. Sebelum menuju masjid kita akan melalui sebuah area yang cukup luas dimana di sisi kiri dan kanannya terdapat beberapa rumah warga tempat menjual cinderamata dan beberapa diantaranya digunakan sebagai tempat untuk menyimpan hasil karya warga sekitar berupa lukisan. Di ujung tempat ini terdapat sebuah gapura besar yakni Gapura Agung. Kita bisa naik ke sisi atas gapura untuk melihat area sekitar Taman Sari dari atas ketinggian. Dari atas Gapura Agung ini pula kita bisa melihat area Taman Sari yang semakin terhimpit oleh pemukiman warga.

Masjid di Taman Sari

Setelah puas berkeliling kawasan pemandian saya melanjutkan perjalanan menuju ke masjid Taman Sari yang tergolong masjid dengan asiterktur unik. Masjid ini dikatakan unik karena terdiri dari 2 lantai dengan pondasi berbentuk lingkaran dan memiliki diameter 25 meter. Di bagian tengah dari masjid tersebut terdapat sebuah tempat yang digunakan sebagai tempat untuk wudhu yang bernama Sumur Gumuling. 



Di bagian tengah-tengah dari sumur ini terdapat tangga yang ujungnya bertemu pada satu titik. Tangga yang berjumlah 5 tersebut menyiratkan  5 rukun Islam. 4 tangga dari arah bawah dan satu tangga sebagai penghubung antara lantai 1 masjid dan lantai 2. Diceritakan bahwa lantai pertama masjid di Taman Sari diperuntukkan sebagai tempat sholat bagi permaisuri raja sedangkan lantai dua digunakan sebagai tempat untuk sholat Sultan.

Sumur Gumuling
Sumur Gumuling

Tidak jauh dari masjid terdapat sebuah terowongan yang panjangnya kurang lebih 25 km. Ujung dari terowongan ini konon berada di pantai selatan yakni pantai Parangkusumo. Terowongan ini dibangun dan berfungsi sebagai jalan penyelamatan apabila terjadi peperangan. Kondisi terowongan cukup terawat dan seperti bangunan-bangunan di bawah tanah lainnya, kondisi cukup pengap akan dirasakan oleh pengunjung ketika singgah di tempat ini.



Terowongan Taman Sari
Terowongan yang ujungnya sampai ke Pantai Parangkusumo


Bila kita perhatikan dengan seksama relief-relief yang berada pada beberapa sudut Taman Sari merupakan relief dengan corak gabungan antara gaya arsitektur Eropa, Cina, Hindu, Budha dan Islam. Ciri khas Eropa muncul dikarenakan sosok arsitek yang merancang Taman Sari adalah seorang berkebangsaan Portugis yang terdampar di Laut Selatan. Setelah diselidiki oleh Keraton, pria yang terdampar itu memiliki keterampilan merancang bangunan karena dia adalah seorang arsitek. Maka dari itu pihak Keraton Yogyakarta mempercayakan tanggung jawab mendesain area Taman Sari berupa gapura, plengkung, dan benteng yang mengelilingi area Keraton Yogyakarta.

Gapura Agung Taman Sari
Gapura Agung Taman Sari

Masih banyak lagi bangunan-bangunan di Taman Sari yang menarik untuk kita singgahi seperti Pulau Panembung yang berada di sisi selatan Pulau Kenanga dimana kita harus berjalan menyusuri sebuah terowongan dengan penjang ratusan meter untuk bisa sampai disana. Pulau Panembung sendiri dipercaya sebagai tempat semedi Sultan untuk memohon sesuatu kepada Yang Maha Kuasa.


Di beberapa bangunan di area Taman Sari memiliki beberapa pintu yang menghubungkan antara bangunan satu dengan bangunan lainnya. Tidak sedikit pula kita akan menemukan perkampungan warga yang mengimpit kompleks Taman Sari. Memang beberapa bangunan di Taman Sari kini sudah dijadikan pemukiman seperti area Jembatan Gantung. Beberapa area seperti Pasarean Dalem Ledoksari dan Kolam Gajiwarti kini sudah tidak ada lagi serta tidak meninggalkan bekas yang bisa kita amati. 

Adanya Kampung Cyber

Di penghujung kunjungan saya ke area Taman Sari saya menyempatkan diri untuk mengunjungi sebuah kampung yang letaknya tidak jauh dari kompleks Taman Sari. Nama kampung tersebut adalah kampung Cyber. Kampung Cyber bukanlah sebuah kampung yang besar seperti yang kita bayangkan. Kampung Cyber merupakan sebuah RT dimana setiap rumah warganya sudah terkoneksi dengan jaringan internet. Penggagas dari adanya kampung ini adalah mahasiswa dari UGM dan resmi dibuka pada tahun 2009.

kampung Cyber
Salah satu sudut kampung Cyber





















Menyusuri setiap sudut kampung Cyber kita akan menemukan beberapa lukisan mural. Nampak pula sebuah gambar yang memperlihatkan kunjungan Mark Zuckerberg pendiri Facebook ketika mengunjungi tempat ini pada tahun 2014 silam. Adanya kampung Cyber menambah daya tarik tersendiri khususnya di kawasan Taman Sari Yogyakarta.

Taman Sari yang kita kunjungi sekarang mungkin sudah berbeda dengan Taman Sari 200 tahun yang lalu. Kini Taman Sari bagai sebuah monumen sejarah dimana di setiap sudutnya bercerita tentang kehidupan keluarga kerajaan di masa lalu. Semua rahasia, misteri serta problematika dalam kerajaan tersimpan rapi dalam sebuah taman air yang keberadaannya sudah semakin terhimpit oleh beberapa bangunan penduduk disekitarnya. Keindahan sebuah taman air yang menyatukan gaya arsitektur China, Budha, Islam dan budaya lokal yakni budaya Jawa menambah daya tarik Taman Sari sebagai destinasi wisata budaya dan sejarah yang wajib dikunjungi ketika berlibur ke Yogyakarta.


" Bagaimana, tertarik mengunjungi Taman Sari Watercastle ???"